Remember

remember
Remember

Author Sfxo

Jung Taekwoon – Choi Soo Young

Romance – Fluf

Rated – PG 17

“this storyline is mine, please don’t copy paste! thank you”

(03. 할 말 (레오 Solo) VIXX LR) ^^



Sooyoung baru saja meletakkan mantelnya saat Taekwoon bangun dari tidurnya, ia melihat istrinya itu berjalan menuju lemari pakaian, matanya terus mengikuti setiap pergerakan wanita bertubuh tinggi itu. Taekwoon bangkit dari tidurnya, sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.

“Sooyoung-ah”

Pergerakan Sooyoung terhenti saat mendengar suara suaminya itu, Sooyoung tersenyum simpul lalu berbalik melihat Taekwoon.

“Mmm, wae?”

Taekwoon ikut tersenyum “Dari mana saja kamu? Aku tadi mencarimu.”

Sooyoung berjalan mendekati Taekwoon diranjangnya “Ah mian, tadi aku sedikit mencari udara segar dihalaman belakang. Maaf jika membuatmu kawatir.” Jelasnya, tiba-tiba Taekwoon merentangkan kedua tangannya.

“Bisakah kau memberiku sebuah pelukan?” pinta Taekwoon dengan suara lirih, karena ia baru bangun tidur.

Tanpa kata Sooyoung langsung masuk kedalam pelukan Taekwoon, tak ada yang terlihat aneh diantara pasangan tersebut. Mereka mencoba memahami dan menerima satu sama lain, pertemuan yang tak diduga menyatukan kedua hati yang tak saling terkait. Sooyoung dan Taekwoon menikah karena dijodohkan oleh  orang tua Taekwoon, Sooyoung adalah seorang yatim piatu. Sebelum menikah dengan Taekwoon, Sooyoung memiliki kekasih bernama Ahn Jaehyun. Seperti cerita dalam drama, Ahn Jaehyun meninggal karena sebuah kecelakaan seminggu sebelum hari pertunangan mereka. Taekwoon dan Sooyoung bertemu berkat Ayah Taekwoon  yang mengenal Jaehyun dan Sooyoung, disaat itu Ayah Taekwoon meminta Sooyoung untuk mau menjadi istri dari putra semata wayangnya. Sooyoung perlu waktu untuk menerima tawaran itu, tapi karena sikap baik Taekwoon dan keluarganya. Sooyoung tidak bisa jika harus menolak tawaran tersebut. Akhirnya wanita cantik itu bersedia menjadi istri dari Taekwoon.

Hari ini adalah tepat 2 bulan Sooyoung menjadi Ny.Jung, hari-harinya selalu dilewati dengan senyuman karena Taekwoon. Namun didalam lubuk hati Sooyoung  masih belum bisa memberikan ruang untuk Taekwoon, kenangan-kenangannya bersama Jaehyun membuatnya sedikit susah  memberikan ruang dihatinya untuk lelaki yang resmi menjadi suaminya itu. Taekwoon-pun menyadari itu, ia sangat mengerti sekali perasaan Sooyoung. Karena dirinya juga mengalami hal yang sama dengan Sooyoung, calon istrinya bernama Shin Ji Na juga meninggal satu bulan sebelum acara pernikahan digelar, tapi bedanya Taekwoon mulai membuka hatinya dan ia kini mulai menyukai wanita yang selalu dilihatnya ketika ia membuka mata setiap pagi, wanita yang selalu memberikan pelukan hangat untuk dirinya.

“Sooyoung-ah” panggil Taekwoon saat melihat Sooyoung berjalan menuju dapur, Sooyoung sedang menyiapkan sarapan untuk Taekwoon.

“Wae?” Tanya Sooyoung sambil membalik terlu dadar di Teflon.

Tiba-tiba tubuh Sooyoung membeku, saat ia merasakan sepasang tangan memeluk erat perutnya. Ia bisa merasakan deru nafas Taekwoon di lehernya, Sooyoung masih terasa canggung untuk sikap Taekwoon saat ini, ia mencoba mengelak dengan halus tapi Taekwoon menahannya. Taekwoon semakin mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya dipunggung Sooyoung.

“Kumohon, cobalah sedikit untuk membuka hatimu untukku. Berikan aku sebuah ruang dalam hatimu, walaupun hanya ruangan yang sangat kecil. Setidaknya aku memiliki tempat disana. Aku tahu kau juga merasa terbebani dengan semua ingatan akan kenangan bersama Jaehyun, tapi kenangan itu hanya akan jadi mimpi yang tak akan pernah bisa kau wujudkan…” sejenak mereka tenggelam dalam keheningang.

Setetes air mata jatuh dilengan Taekwoon, perlahan pelukan itu terlepas. Ia tak sadar jika ada kalimat yang membuat istrinya itu menangis. Sooyoung mematikan kompor, menghapus kasar air mata dan mencoba untuk tersenyum, ia berbalik dan melihat Taekwoon. Kedua pasang mata itu saling menatap sendu, mencoba mencari sebuah arti dalam tatapan mata masing-masing. Taekwoon memutuskan kontak mata terlebih dahulu, ia berbalik dan berniat kembali kemeja makan, namun Sooyoung menahan tangannya. Taekwoon melihat Sooyoung dengan tatapan bingung.

“Mianhae…” Sooyoung melepas pegangannya dilengan Taekwoon “Mianhae, Taekwoon-ssi. Aku belum siap untuk itu, 10 tahun adalah waktu yang lama. Untuk mengubur semua kenangan yang tadi kau bilang akan menjadi mimpi yang tak pernah terwujud, itu sangat sulit. Jika aku bisa memilih, aku ingin mengalami amnesia. Dengan begitu semua ingatan itu akan hilang, tapi ini terlalu sulit untukku melupakannya. Sekali lagi maafkan aku Taekwoon ssi_”

Taekwoon yang tak tahan dengan penjelasan Sooyoung, ia memutuskan pergi kelantai atas, tapi sekali lagi Sooyoung menahannya.

“_Taekwoon-ssi_” Taekwoon menghentikan langkah kakinya “Bisakah kau bersabar untuk menungguku hingga waktu itu tiba, eung?_” Taekwoon sejenak terhenyak mendengar permintaan Sooyoung, tapi ia tetap tak melihat istrinya “_bisakah kau menungguku dan membantuku untuk mengubur semua ingatan itu?…” keduanya kembali dalam keheningan, Taekwoon tak merespon istrinya dan bergegas kelantai atas.

Semenjak peristiwa tadi pagi Taekwoon belum pulang, Sooyoung mencoba hubungi ponsel Taekwoon tapi tidak dijawab olehnya. Disisi lain, ponsel Taekwoon berada di bawah bantal sofa ruang tamu, Sooyoung tak mengetahui jika ponsel Taekwoon telah tertinggal di rumah. Ponsel itu terus bergetar. Dengan gelisah Sooyoung menanti Taekwoon dihalaman rumah, ia duduk di ayunan putih yang digantungkan disebuah pohon besar didepan rumah. Semakin malam udara semakin dingin, Sooyoung semakin mengeratkan selimutnya. Matanya tak pernah lepas dari layar ponselnya, sesekali ia menatap kearah gerbang rumahnya.

10 menit …. 20 menit … 30 menit berlalu

Sepasang tangan kekar meraih tubuh Sooyoung, menggendongnya membawanya masuk kedalam kamarnya. Taekwoon menarik selimut dan menutupi tubuh Sooyoung agar tidak kedinginan karena telah menunggu lama diluar. Taekwoon menatap wajah polos yang sedang tertidur pula situ, setelah puas memandangi wajah Sooyoung. Taekwoon kekamar mandi untuk membersihkan diri.

20 menit berlalu

Taekwoon selesai mandi dan berniat untuk tidur, langkahnya terhenti saat melihat ekspresi wajah Sooyoung yang tiba-tiba berubah.

“Jaehyun-ah..” Sooyoung mengiggau “Mianhae Jaehyun-ah… … … …”

Taekwoon menghela nafas, dan tersenyum kecut. Ia melempar handuknya kesembarang tempat, dan pergi keluar meninggalkan Sooyoung dikamar.

“Taekwoonssi…” panggil Sooyoung dalam tidurnya.

Taekwoon duduk didepan TV sambil menikmati sekaleng bir, matanya menatap kosong kelayar TV. Ia tak menyangka bahkan didalam mimpinya ia tetap memikirkan Jaehyun. Taekwoon melihat kearah jendela yang telah tertutupi oleh rintik-rintik hujan, Taekwoon tersenyum pahit saat air mata yang ia tahan sejak tadi menetes dipipinya. Ia menertawai dirinya sendiri karena menangis karena cinta.

“Apa kau benar Jung Taekwon?” iya tersenyum merasakan airmata yang menetes dipipinya.

Dengan langkah lemah, karena kepalanya yang pusing. Sooyoung menghampiri Taekwoon yang duduk disofa ruang tengah.

“Taekwoon-ssi” panggilnya dengan suara bergetar.

Taekwoon terdiam saat mendengar suara Sooyoung, ia mencoba menyeka air matanya yang kembali ingin menetes. Taekwoon berbalik melihat istrinya yang sedang berdiri didekat tangga dan menatapanya dengan wajah yang sangat pucat. Sooyoung tersenyum melihat Taekwoon sudah pulang, hatinya merasa lega karena Taekwoon sepertinya tidak apa-apa.

“Eoh?”

“Syukurlah kau pulang dengan selamat” ucap Sooyoung dengan suara yang sangat lemah.

Taekwoon hanya tersenyum lalu kembali menatap layar TV, ia mencoba menyembunyikan air mata yang sudah tak bisa ia tahan. Sooyoung menghela nafas lega dan tubuhnya langsung terjatuh, ia tak sadarkan diri.

Taekwoon melihat Sooyoung saat mendengar suara Sooyoung terjatuh, Taekwoon panik dan langsung berlari menghampiri sang istrinya.

“Ya! Sooyoung-ah, Choi Sooyoung! Kau kenapa?! Sooyoung-ah!” Taekwoon mencoba membangunkan Sooyoung dengan menggoncang lembut tubuh yang tergeletak tak berdaya itu. Taekwoon langsung menggendong Sooyoung dan membawanya kerumah sakit.

“Dia hanya kelelahan dan demam, syukurlah demamnya sudah turun. Kelihatannya dia sedikit stress, jadi biarkan dia istirahat di rumah sakit untuk beberapa hari..” penjelasan dari dokter selalu terniang di fikiran Taekwoon, tangannya menggenggam erat tangan Sooyoung. Ia berharap Sooyoung lekas sembuh, ia merasa sangat kawatir karena Sooyoung sakit karena dirinya.

“Mianhae… karena aku kau jadi seperti ini.” Ucap Taekwoon sambil mencium lembut tangan Sooyoung.

Perlahan Sooyoung membuka matanya dan melihat Taekwoon sedang tertunduk lesu sambil menggenggam tangannya. Sebuah senyum terlukis diwajah pucat Sooyoung.

“Taekwoon-ssi”

Suara itu membuat Taekwoon terkejut, dan langsung menatap Sooyoung.

“Kau sudah bangun, apa kepalamu masih pusing? Perlu kupanggilkan Dokter?” Tanya Taekwoon tanpa memberi kesempatan Sooyoung untuk menjawab. Sooyoung hanya tersenyum melihat wajah Taekwoon yang masih terlihat kawatir.

“Kenapa kau diam saja, eoh? Apa tubuhmu masih tidak enak? Aku akan panggilkan Dokter, tunggu seben-” kalimat Taekwoon terhenti saat tangan Sooyoung menggenggam erat tangan pria yang sedang memandangnya bingung.

“Tidak usah, aku tidak apa-apa. Jangan kawatir, aku sudah merasa baikkan”

Taekwoon hanya diam kikuk karena melihat senyuman Sooyoung, mereka terjebak dalam keheningan sesaat hingga Sooyoung berusaha untuk bangkit dari tidurnya dan Taekwoon membantu Sooyoung.

“Kau yakin? Wajahmu masih terlihat sangat pucat.” Tanyanya memastikan keadaan Sooyoung sambil duduk dan menatap Sooyoung.

Sooyoung mengangguk “Yakin 100%, kau mau aku membuktikannya?”

“Tidak usah, aku takut kamu akan jatuh seperti tadi. Kau tau betapa kawatirnya aku!” tolak Taekwoon dengan suara bergetar.

“Taekwoon-ssi, nan jjinja gwaenchan. Jangan terlalu cemas.” Yakin Sooyoung.

“Bagaimana aku tidak cemas, kau adalah istriku” Taekwoon bergumam.

“Ye?”

Taekwoon salah tingkah “Ania, ania” elaknya cepat.

“Taekwoon-sii, kemarilah” pinta Sooyoung sambil menepuk space kosong disampingnya, awalnya Taekwoon bingung, tapi melihat wajah imut Sooyoung. Ia mengikuti permintaan Sooyoung, Taekwoon duduk disamping Sooyoung. Sooyoung manarik lengan kiri Taekwoon dan membuatnya sebagai bantal hingga Taekwoon harus memposisikan berbaring di samping Sooyoung. Awalnya Taekwoon merasa agak canggung dan bingung, tapi tiba-tiba Sooyoung melingkarkan tangannya diperutnya dan mendekapnya dengan erat hingga Taekwoon merasakan suhu tubuh Sooyoung.

“Sooyoung-ah, kau kenapa?” tanyanya sedikit tergagap.

Sooyoung tak menjawab, ia hanya mencari posisi yang nyaman dalam dekapan Taekwoon, Taekwoon hanya pasrah dan ikut tidur sambil mempererat pelukannya pada Sooyoung.

Matahari sudah bersinar terang, jam dinding menunjukkan pukul 08.40 pagi. Namun kedua insan yang ada didalam kamar rumah sakit itu, masih belum bergerak dari posisinya. Hingga seorang suster yang akan memeriksa Sooyoung masuk dan tak sengaja membangunkan Taekwoon.

“Oh, jeosonghamnida. Saya tidak tahu jika situasinya akan seperti ini.” Ucap suster itu dengan senyum malu.

Taekwoon mencoba mengumpulkan kesadarannya, dan langsung terbangun saat sadar ada orang lain dikamar tersebut. Taekwoon berbalik dan melihat suster sedang menahan senyum dengan wajah meronanya.

“A… ye, anda ingin memeriksa istri saya-kan?” Tanya Taekwoon sedikit canggung, ia berusaha bangun dari posisinya tapi tangan Sooyoung tak melepaskannya.

Sang suster tersenyum “Tidak apa-apa, sepertinya istri anda sudah lebih baik. Kalian bisa melanjutkan istirahat kalian. Saya akan kembali lagi nanti Siang.” Pamit sang Suster dan berhasil membuat rona merah padam diwajah tampan Taekwoon pagi-pagi, Taekwoon melihat tangan Sooyoung diperutnya.

“Huh, lebih baik kembali tidur. Sepertinya aku tidak bisa lepas dari wanita cantik ini” gumamnya sambil melirik Sooyoung yang masih tidur pulas. Taekwoon kembali dengan posisi tidurnya dan matanya tak lepas memandangi wajah Sooyoung.

“Kenapa kau memandangiku terus? Apa aku sangat cantik?” Tanya Sooyoung dengan mata yang masih tertutup.

Taekwoon tak tahu jika ternyata Sooyoung sudah bangung, Sooyoung membuka matanya dan membalas tatapan sang suami.

“Kau tidak mau menjawabku?” Taekwoon hanya mengangguk pelan.

“Mianhae… soal semalam. Kau pasti mendengarku mengigau memanggil Jaehyunkan?” Taekwoon kembali menganggu.

“Mian, aku selalu ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi. Adakalanya aku akan bermimpi tentang kecelakaan itu, aku merasa bersalah karena itu. Kenangan dan ingatan itu terasa masih hangat. Aku tidak akan bisa menghilangkan ingatan itu jika harus sendiri. Terkadang aku suka menangis sendiri karena aku harus hidup dan mengorbankan orang lain. Taekwoon-ssi, jjinja mianhae, aku harap kau bisa mengerti diriku. Dan sedikit lebih bersabar, eung?” Taekwoon tampak berfikir, lalu ia tersenyum. Tiba-tiba Taekwoon menarik Sooyoung dalam dekapannya, ia menepuk-nepuk lembut punggung istrinya.

“Eum, gwaenchana. Selama kau tak menangis saat aku memelukmu, itu tidak apa. Aku akan bersabar hingga waktunya tiba. Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau menangis karena diriku? Argh… rasanya aku seperti pria brengsek yang memaksa seorang wanita untuk bersamaku. Seperti dongeng beauty and the beast.” Ujar Taekwoon.

Sooyoung tersenyum mendengar kalimat Taekwoon, ia merenggangkan pelukannya dan melihat Taekwoon yang juga sedang melihatnya bingung.

“Kau lupa ending dari dongeng tersebut?”

“eung???”

Cupp~

Sebuah kecupan singkat dibibir Taekwoon dan membuatnya membeku, otaknya memproses apa yang sedang terjadi. Sooyoung tertawa melihat ekspresi Taekwoon, ia menahan malu setengah mati karena mencoba untuk membuka hatinya untuk Taekwoon. Sooyoung belum pernah mencium Taekwoon terlebih dulu sebelumnya, bahkan saat upacara pernikaan Taekwoonlah yang memulai. Sooyoung menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Taekwoon.

“Ckc… Apa ini? Apa yang baru saja terjadi?” goda Taekwoon melihat tingkah Sooyoung.

“Ah… hentikan. Apa kau tidak tahu aku sangat malu saat ini.” Ucapnya tak jelas karena bebricara dalam dekapan Taekwoon.

“YA!” Sooyoung langsung menatap Taekwoon saat tiba-tiba Taekwoon berteriak.

“Wae?” Tanya Sooyoung bingung.

Taekwoon memandangi Sooyoung dengan tatapan tajamnya, Sooyoung hanya memandang Taekwoon dengan bingung.

“Waeyo?”

“Shhh… Jika kau mau melakukannya, maka lakukan dengan cara yang benar.” Jawab Taekwoon dan membuat wajah Sooyoung semakin memerah.

“Mwo-” Taekwoon memotong kalimat Sooyoung dengan sebuah ciuman yang hangat, ciuman yang mampu membuat Sooyoung merasakan sebuah perasaan yang aneh.

-o00o-

Aigooo~~ sudah lama gak nulis ff jadi rada kaku, aku balik lagi bawa Ficlet
antara Sooyoung dengan cowok dingin akang(?) Leo VIXX. Semoga sedikit menghibur lah ya. Maaf kalo castnya bukan exo, soalnya lagi suka VIXX LR, jadi pengen nulis dah. Terima kasih sudah menyempatkan membaca, komentar dan like kalian adalah penyemangatku untuk terus menulis dan berkarya *tebarcium kiss kiss kiss :*

Iklan

4 thoughts on “Remember

  1. Choi Je Kyung 2016/02/09 / 9:43 pm

    Ekhm… ekhm…
    Saya mau koment, boleh gak 😆

    FF ini manis banget, walaupun Soo eonnie masih belum bisa melupakan Jaehyun. Tapi, Taekwoon masih sabar menanti. Semoga apa yang ditunggunya berbuah hal yang manis, sama seperti harapannya.

    Btw, bikin sequel dong chingu untuk ff ini 😢 pengen lihat kelanjutan cerita mereka 😍

    • sifixo 2016/02/13 / 7:47 pm

      hihihi jekyung annyeong~
      komen apapun silahkan asal tidak kasar hehe
      makasih udah nyempetin baca dan komen ^^

      untuk squel… hmm… mikir” dulu deh, aku baru mau lanjutin wolf nih… udah setahun(?) gak selesai-selesai hwahaha 😀

      doain bisa buat squelnya Remember ya 🙂

  2. febryza 2016/02/12 / 11:33 pm

    aaaahhhh manis bgt sih mereka berdua di ending ff ini, yah walaupun doyoung belom bisa ngelupain jaehyun tapi gapapa soanya dia udah mau ngebuka hatinya buat leo si pendiem kereeen

    • sifixo 2016/02/13 / 7:50 pm

      Makasih ya febry 🙂 udah nyempetin waktu luangnya untuk singgah, baca ff disini dan komentarnya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s