Miracle in December [Part 1]

Miracleindecember
Miracle in December 

 Cast : Choi Sooyoung | Byun Baekhyun | Zhang Yixing

OC   : D.O KyungSoo | Kim Jongdae | Seo Johyun | Choi Jinhyuk | etc..

Genre : Romance, Drama, Sad

Rated : PG15

“Saat aku kehilangan nada, kau datang dengan semua keajaiban”

Miracle in December

Ting~~~~

Suara nyaring di IAS terdengar di seluruh wilayah sekolah seni terbesar di korea selatan tersebut. Angin musim gugur menerbangkan dedaunan yang telah tergeletak di rerumputan taman IAS, suasana IAS sangat lengang setelah bunyi bel berbunyi. Suara dentum jarum jam raksasa yang terpasang di menara gedung utama IAS membuat suasana menjadi tenang.

“Guru Hwan, apa kau sudah mempersiapkan semua formulirnya?” suara seorang pria paruh baya baru saja membuyarkan konsentrasi Guru wanita yang tengah menikmati pemandangan luar dari jendela didekat meja kerjanya.

“Oh, Guru Song. Annyeong.” Sapanya sambil memberi hormat pada guru yang lebih tua darinya “Ne, semua formulir berjumlah 2500. Seperti yang anda minta.” Jawabnya.

Guru bermarga Song itu mengangguk diiringi dengan senyuman “Kau urus semua, dan segera sebarkan poster dan brosur sebelum tanggal 20 November, karena aku ingin semua calon bintang siap training di akhir desember.” Perintahnya. Dan dijawab dengan anggukan oleh guru Hwan.

[D.O] Boiji anheun neol chajeuryeogo aesseuda
deuliji anhneun neol deureulyeo aesseuda
[Baekhyun] Boiji anhdeonge boigo deulliji anhdeonge deullyeo
neo nareul ddeonan dwiro naegen eobdeon himi saenggyeosso

[Chen] Neol nabakke mollasseodeon igijogin naega yeah…
ne maeumdo mollajwodeon musimhan naega
ireohke deo dallajyeodaneunge najocha midgiji anha
[D.O] Ne sarangeun ireohke gyesok nal umjikyeo

[Baekhyun] Nan saenggakmanhamyeon sesangeul neoro chaeul su isseo hmmm…
nunsongihanaga ne nunmul han bangulinigga
[D.O] Dan han gaji mothaneun geoseun neol naegero oge haneun il
i chorahan choneunglyeog ([D.O/Baekhyun] ijen eobseoeumyeon jogesseo) uhhh..

[Chen] Neol nabakke mollasseodeon igijogin naega
ne maeumdo mollajwodeon musimhan naega
ireohke deo dallajyeodaneunge najocha midgiji anha
[Baekhyun] Ne sarangeun ireohke gyesok nal umjikyeo

[All] Jiganeul meomchwo ([D.O] Nege doraga)
chueogeul chaegeun ([D.O] Neoui peijireul yeoreo)
nan ge ane isseo ([Baekhyun] Ow hooo)

[Chen] Neowa hamkke ineun geol
aju jogeunmago yakhan sarami neoui sarangi
[Baekhyun] Ireohke modeungeol ([D.O] Nae salmeul modu)
bakkungeol ([D.O] Sesangeul modu) hooo uwoo…

Prokk prok

Ketiga namja itu langsung menghentikan nyanyian mereka saat mendengar suara tepuk tangan dari arah pintu, mereka terkejut saat melihat guru Hwan sedang berdiri di ambang pintu studia.

“Oh Seongsaengnim..” ucap ketiganya kompak.

Guru cantik itu perlahan berjalan mendekati ketiganya di tengah studio vocal itu “Ini.” Ia memberikan selembar kertas pada namja yang berdiri di tengah-tengah [Baekhyun].

“Apa itu?” sahut D.O penasaran.

Guru Hwan tersenyum “Inilah kesempatan kalian untuk mewujudkan mimpi kalian, audisi akan di adakan akhir tahun. Dan ini formulir pendaftarannya, aku yakin 4Star akan bersinar tahun depan.” Tuturnya.

Namun mereka tidak menjawab, mereka hanya saling melempar tatapan ragu satu sama lain “Ada apa?” tanya Guru Hwan bingung.

“Sekarang 4star akan berjalan sendiri-sendiri, kami telah memutuskan.” Sahut Chen sambil melihat kedua anggotanya.

Guru Hwan tampak terkejut, pasalnya 4star sudah berdiri hampir 4 tahun dan saat mereka akan bisa meraih impiannya, yaitu bernyanyi di panggung pentas bersama-sama telah sirna.

“Apa?” Guru Hwan menatap ketiganya bingung.

“Ne, kami telah memutuskan untuk berjalan di jalan masing-masing. Setelah keluarnya Lay, kami sudah memutuskannya.” Tambah D.O. kini Guru Hwan ingin mendapat penjelasan dari sang Leader, ia menatap Baekhyun yang tampak enggan bersuara.

Guru Hwan mengangguk, “Aku mengerti, aku harap perjalanan 4 tahun itu tidak jadi sia-sia.”Ucapnya lalu berbalik, sebelum ia melangkah pergi, ia kembali berbalik dan mendekati Baekhyun  “Leader yang baik akan memikirkan anggotanya, fikirkan baik-baik dan ingat apa yang telah kalian jalani selama 4 tahun. Kalian tahu, Super junior yang awalnya dengan 13 anggota dan seiring berjalannya waktu ada beberapa anggota yang keluar dan lebih mementingkan solo karirnya kini mereka kembali bersama. Aku yakin kalian sudah dewasa, hargailah semua orang yang telah mendukung kalian. Aku ingin melihat 4Star bersinar tahun depan. Fikirkan itu___ leader.” ujarnya panjang lebar lalu benar-benar pergi meninggalkan studio vocal itu, ketiganya hanya diam setelah mendengar nasehat dari guru Hwan.

Suara alunan lagu moonlight sonata dari violin yang bertengger di leher indah yeoja itu menggema di sebuah aula gedung kosong. Air matanya tak henti mengalir seiring lagu itu mengalun dari violin yang ia mainkan. Ingatan akan kegagalannya mengikuti kontes untuk maju bersama okestra di sekolahnya terus terngiang.

Tap.. tap.. tap..

Seorang pria tampan dan tinggi baru saja sampai di tangga ditempat duduk penonton, ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh adiknya. Ia menangkap tatapan sang adik yang tengah mengarah padanya.

“Kau baik-baik saja?”

Yeoja yang sedang duduk di bibir panggung itu mengangguk pelan dengan senyum yang dipaksakan.

“Gwaenchana..” sang kakak menatapnya iba, suara yang diiringi oelh isakan itu membuat hati sang kakak seperti teriris.

“Soo, aku belum pernah melihatmu seperti ini. Terakhir kau seperti ini saat umurmu 9 tahun, saat kepergian ayah dan ibu…. Sooyoung-ah.. mianhe..” ucapnya dan langsung menarik tubuh sang adik kedalam pelukannya. Tangisnya langsung pecah, saat dalam pelukan sang kakak.

Terlihat seorang namja tengah memandangi pintu dengan papan nama 4star4ever, ia terlihat begitu lesu. Perlahan berjalan meninggalkan lorong yang terdapat di backstage IAS, tempat dimana semua bakat siswa di uji. Ruangan itu adalah markas para anggota 4star saat membolos pelajaran dan tempat dimana mereka menulis lagu-lagu mereka. Sebuah handbag bening tergenggam erat ditangannya, terlihat lembaran-lembaran kertas putih dengan gambar note yang tersusun rapi. Ya, dia baru saja mengambil semua barang-barang yang tertinggal di tempat itu.

“Miracle in december” itu Yang tertulis di kertas yang berada dipaling atas.

“Lay…” langkahnya terhenti saat ia mendengar suara yang tak asing di telinganya, ia berbalik dan melihat sosok yeoja tengah berdiri sedang menatapnya.

“Seohyun.” Lirihnya. Perlahan yeoja bernama Seohyun itu berjalan menghampirinya.

Perlahan alunan dari tuts-tuts piano itu terdengar di stage IAS, sebuah senyum terlukis diwajah Seohyun saat melihat wajah tampan Lay saat bermain piano. Alunan lagu Fur Elise terdengar di seluruh ruangan yang berdekatan dengan stage IAS.

“Kenapa jadi seperti ini, aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar. Apa salah jika aku jujur___ jika aku mencintaimu.” ucapnya dalam hati, ia masih setia memandangi namja yang tengah bermain piano untuknya itu. Senyum kesedihan kembali terlukis diwajahnya, tak sadar sejak tadi ada seseorang yang sedang mengamati mereka dari belakang stage.

“Bahkan saat kau jatuhpun, dia masih ingin bersamamu.” Ia mengerjapkan matanya yang sudah menahan airmata itu, ia tersenyum palsu “Baiklah jika itu maumu, akan kutarik keinginanku untuk mengajakmu kembali.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

“Kau sudah siap berangkat?” tanya Jinhyuk sambil duduk disofa yang berada didekat jendela. Sooyoung mengangguk dengan senyum tipis.

“Ne oppa, aku akan berangkat besok jam 10.”

Jinhyuk mengangguk, lalu ia mengelurkan sebuah kertas yang terlipat pada sang adik “Ikutlah kau akan bisa melupakan ini semua.” Ucapnya.

“Apa ini?” ia mengambil kertas itu “International art school auditions 2014″  ia menatap sang kakak.

“Tidak, aku pulang ke seoul hanya untuk berlibur” wajah Jinhyuk berubah masam, Sooyoung kembali terseyum tipis “Soal okestra… aku akan mencoba melupakannya. Walaupun itu akan butuh waktu yang lama.” Ucapnya pasrah.

Jinhyuk menghela nafas kasar “Fikirkanlah dulu, ini kesempatanmu. Aku akan mengurus semua surat kepindahan dari sekolahmu ke sana. Menetaplah di korea dan wujudkan mimpimu disana, oppa akan selalu mendukungmu.” Pintanya.

Sooyoung terlihat berfikir sejenak, ia memandang kertas tersebut “Aku tidak bisa meninggalkan jerman, aku akan kembali saat semua kenangan ini menghilang dan acara okestra sukses.” Jinhyuk menyandarkan tubuhnya di sofa, ia menatap sang adik tak percaya.

“Oppa.. mimpiku adalah jerman. Disinilah semua mimpiku tercipta, setelah kepergian ayah, hanya ini yang kuinginkan menjadi musisi di jerman dan tinggal bahagia bersamamu dan Jihyo eonni di jerman. Untuk tinggal di Seoul, dan menetap __ itu akan sulit, disana banyak kenangan tentang ayah dan ibu. Dan aku takut tidak akan bisa fokus dengan karir musikku. Aku, akan tetap berkarir di jerman, masalah IAS aku tidak tertarik” tegasnya, Jinhyuk hanya bisa mengangguk, mengerti saat sebuah keyakinan dan kesedihan terlihat jelas dimata sang adik.

Seoul , 12 November 2014

“Apa semua sudah siap?” tanya Guru Hwan pada Guru Hyun.

“Ne… semua formulir sudah di bereskan. Tapi masih ada beberapa siswa yang mendapat undangan dari sekolah, tapi belum mengumpulkan formulir.” Guru Hwan berfikir jika itu adalah 4star.

“Bisa aku pinjam data nama yang sudah terdaftar?” Guru Hyun menangguk.

“Ini.” Guru Hyun memberikan sebuah flasdisk putih.

Jari lentik Guru Hyun dengan lincah mencari nama keempat anggota 4Star dan ternyata benar, masih ada 11 nama siswa undangan yang belum mengumpulkan.

“Byun Baekhyun, Kyungsoo, Jongdae, Jeonmyon, Kris, Kai, Krystal, Luna, Sulli, Lay, dan ___  Choi Sooyoung?” ia menatap Guru Hyun saat mendengar nama yang asing di telinganya.

“Ne, beberapa hari yang lalu ada siswa pindahan dari jerman. Guru Song sendiri yang menyuruh Guru Kim untuk mengirimkan undangannya langsung kejerman.”

“Apa?” Guru Hwan tak percaya.

Guru Hwan tampak berjalan tergesa-gesa menuju ruang A1 Vocal dimana ketiga anggota 4Star berada. Benar saja mereka sedang terlihat begitu serius dengan apa yang dijelaskan oleh Guru Kim, hanya ada 30 siswa dalam kelas itu. Karena hanya siswa yang benar-benar mempunyai kemampuan bernyanyi dengan baguslah yang dapat masuk kedalam kelas A1 Vocal. Ada 10 kelas unggulan diantara yang paling terkenal adalah kelas 3-A1 Vocal, 2-A1 Music, dan 4-A1 Drama. Dan dari 4252 siswa IAS hanya 1500 yang bisa mentap di kelas itu selama 4 tahun. 3 tahun untuk memperdalam skill mereka dan 1 tahun untuk persiapan debut.

Tokk… tokk…

Guru Kim menghentikan aktivitas mengajarnya sejenak “Maaf, saya menganggu.” Ucap Guru Hwan saat membuka pintu, semua siswapun juga melihat kearahnya dan menyapa wakil kepala sekolah IAS.

“Ada apa Guru Hwan?”

“Ah… tidak, aku hanya ingin meminta formulir dari 4Star.” Ucapnya dan membuat semua siswa menatap kearah bangku paling belakang.

“Mwo?” tanya D.O pada teman-temannya.

“Ah, disana.” Ucapnya sambil menunjuk Baekhyun “Leader__ aku ingin formulir kalian ada dimejaku setelah pelajaran selesai, jika tidak. Aku jamin tahun depan kalian bertiga… ah tidak berempat akan duduk ditempat yang sama.” Sindirnya dengan nada bercanda. Namun mendapat balasan keseriusan dari semua manusia yang ada di ruangan tersebut.

—-

Baekhyun tampak resah ia kembali menatap kertas yang berada di atas meja itu “Miracle in december?” suara Chen membuyarkan lamunannya.

“Ah… desahnya lesu.

“Kenapa? Kau ingin membawakannya?” Baekhyun menatap Chen dari pantulan di cermin, ia mengangguk pelan.

“Mungkin..”

“Lalu, apa kau yakin jika Lay tidak akan memainkan lagu itu?” Baekhyun hanya mengangguk.

“Memang kenapa, toh lagu ini juga lagunya. Aku dan dia menciptakan untuk audisi, dan berharap bisa bernyanyi bersama dengan kalian. Tampil di panggung IAS bersama 4Star, dan debut bersama 4star.” Tuturnya pelan, ia merasa sangat bersalah pada satu anggotanya itu, ia terlalu terbawa emosi dan terlalu memikirkan dirinya sendiri.

“Jika kau bisa berkata seperti itu, lalu kenapa kau mengeluarkannya secara tidak hormat waktu itu. Gara-gara kau image 4Star hampir hancur!” sahut D.O, Baekhyun terkejut dengan apa yang baru saja di katakan olehnya.

“D.O..” peringat Chen.

Baekhyun mengangguk “Benar… memang aku yang salah. Aku yang membuat 4Star hancur, kau puas!” balasnya lalu pergi, Chen hanya mendengus kesal dengan sikap D.O.

14 November 2014

Angin berhembus menerpa dedaunan yang berserakan di rumput taman kota di tengah hari-hari tenang korea. Sooyoung terus memandangi pemandangan sekitar, ingatan akan masalalunya bersama sang ibu membuatnya kembali tersenyum. Ya, sekarang ia sedang berada di tempat dimana ia selalu menghabiskan waktu dengan sang ibu setelah les musiknya.

“Eomma, Appa, apa kalian baik-baik saja. Aku sangat rindu dengan permainan biolamu, kau selalu memainkan Fur Elise itu sangat indah dan aku sangat rindu saat itu. Eomma, Appa, aku merindukanmu.” Gumamnya sambil menggesek-gesekkan ujung sepatunya di rerumputan.

“Sepatumu bisa kotor..” Sooyoung mendongakkan kepalanya dan melihat seorang namja tengah berdiri dihadapannya.

“Ouh, ne…” jawabnya gugup.

“Boleh aku duduk disini?” tanyanya.

“Tentu, kau bebas.” Balas Sooyoung sambil memindahkan tas biolanya dan membiarkan namja itu duduk.

“Terima kasih.”

“Hh?”

“Kau sudah memperbolehkan aku duduk, aku sangat lelah berlari. Dan aku lihat hanya disini tempat kosong.” Sooyoung mengangguk mengerti.

“Baekhyun, namaku Byun Baekhyun. Kau?” Tanya Baekhyun sambil mengulurkan tangannya pada yeoja yang setengah melamun itu.

Sooyoung tersenyum sambil menjabat tangan Baekhyun “Sooyoung, Choi Sooyoung.” Balasnya dan Baekhyun mengangguk.

15 November 2014

“Gamsahabnida…” ucap Lay sambil membungkuk singkat.

Kini namja berlesung pipi itu tengah menyusuri jalanan distrik myeongdong yang terlihat begitu ramai. Lampu-lampu yang terpasang di etalase toko membuat suasana sore ini semakin indah, Lay baru saja keluar dari toko alat musik. Terlihat sebuah tas gitar di punggungnya.

Drrtt… drrrt…

Langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar “Ouh ada sms..” gumamnya sendiri sambil merogoh benda kecil berwarna putih itu di saku celananya. Senyumnya luntur seketika saat melihat nama pengirim pesan yang tertera di layar ponselnya.

“Kau mempermainkanku?” gumamnya kesal, ia tak membukanya dan langsung memasukkan ponsel itu kembali ke saku celananya dan melanjutkan jalannya.

Bugh

“Arkk…” | “Arkk…”

Teriak kedua insan itu kompak saat tubuh mereka tersungkur di jalan trotoar, Lay melihat seorang yeoja sedang menahan sakit di tangannya. Ia tampak kasihan dan langsung bangkit untuk membantunya.

Lay terdiam saat melihat wajah wanita itu begitu pucat “Kau baik-baik saja?” tanya Lay kawatir “Maaf, tadi aku tidak sengaja.” Ucapnya merasa bersalah.

Yoeja itu tersenyum sambil menahan rasa perih di sikunya “Aku tidak apa-apa… kau tidak perlu minta maaf aku yang sala-” tiba-tiba tubuh yeoja itu ambruk, tak sadarkan diri. Lay-pun langsung menangkap tubuh ringkih itu, ia melihat orang-orang sekitar yang memandangnya penuh tanya.

“No… no.. nona? Nona, bangunlah..” cobanya untuk membangunkan yeoja itu. Tak ada pilihan lain selain membawanya pergi kerumah sakit, ia meraih kaki yeoja itu dan menggedongnya ala bridal style dan memberhentikan taksi lalu pergi kerumah sakit.

“Baik lah jika itu maumu…” geram Baekhyun sambil menatap ponsel yang berada di atas ranjangnya “Kau tak membalas pesanku?_ Kau terlalu sombong! Arkgh!” geramnya sambil menghempaskan tubuhnya di ranjangnya.

“Wae?” suara Chen mengalihkan perhatian Baekhyun.

“Dia tidak membalas pesanmu?”

Baekhyun hanya mendesah pelan, di ambang pintu D.O hanya menatap sinis sahabatnya itu. Ia sedang marah sekarang, ia marah terhadap sikap Baekhyun yang mengancam mimpinya.

“Jika aku jadi Lay hyung, maka aku juga tidak akan membalas pesanmu.”

Baekhyun dan Chen menatap ke sumber suara “Kyungsoo-ya..” peringat Chen.

D.O menatap Chen sekilas lalu menatap Baekhyun “Bukankah tingkahmu terlalu kekanak-kanakan? Kau mengeluarkan Lay hanya karena CINTAMU BERTEPUK SEBELAH TANGAN EOH?! KAU TAHU KARENA SIKAPMU__” D.O menggantungkan kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca, Baekhyun tercengang melihat D.O sekarang “Karena sikapmu akan merusak mimpi kita! Mimpi yang telah kita rencanakan bersama!”

Kedua tangan Baekhyun mengepal “Kau sudah selesai?” tanya dengan menahan emosinya.

“YA! Hentikan, dengan sikap kalian seperti ini. Masalah kita tidak akan pernah selesai” Chen mencoba meredakan atmosfer kemarahan diantara kedua sahabatnya itu “Biar aku yang bicara dengan Lay_” Chen bergantian melihat sahabatnya “Dan kau, Kyungsoo. Tahan emosimu. Mimpi kita. Tidak akan hancur hanya karena ini.” Ucapnya dengan penuh keyakinan, sambil menatap bingkai foto 4star di dinding kamar Baekhyun.

“Ah.. maaf, tapi saya tidak tahu siapa namanya.” Lay hanya menggaruk tengkuknya.

“A… kau bisa melihat kartu identitasnyakan?”

Lay tersenyum “Ne..” ia langsung membuka tas yang tersampir di tangan kirinya “Ini.” Ucapnya sambil memberikan kartu identitas perempuan yang ia bawa ke rumah sakit ini.

Suster itu menerimanya dan menuliskan nama itu di data pasien, “Ah.. jadi namanya Choi Soo_” kalimatnya terhenti saat ia mendengar suara ponsel dari dalam tas “Oh.. Jinhyuk oppa?” gumamnya saat melihat nama yang muncul di ponselnya.

“Ne..”

“Oh, nona pemilik ponsel ini tadi pingsan dan sekarang sedang ada dirumah sakit.”

“…”

“Ah… Ne”

“…”

“Ye. Gwaenchanh-ayo, a.. di rumah sakit wusu.”

“…”

“YE!”

Lay langsung memasukkan ponselnya kembali kedalam tas “Ini tuan.” lalu mengambil kembali kartu identitasnya.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Baekhyun masih setia duduk dimeja belajarnya. Kesepuluh jarinya bergerak lincah membalas setiap pesan yang masuk di ponselnya, sesekali melirik ke arah jam dinding.

“Huh… Cinta? Persahabatan? Mimpi? Kenapa sangat rumit!” ucapnya pelan dan melempar ponselnya ke ranjang. karena semua pesan yang masuk menanyakan bagaimana nasib 4star.

“Hah… kenapa kakaknya belum datang juga?” keluh Lay karena terlalu lama menunggu.

“Eungh…” matanya langsung melebar saat mendengar suara Sooyoung yang baru saja sadar.

“Eoh, kau sudah sadar?” gadis itu tak menjawab, hanya kedipan dari matanya yang memperlihatkan ia belum mempunyai tenaga untuk bersuara.

“Ah, tidak apa-apa. Kau istirahatlah, karena kau sudah sadar.” Lay bangkit dari kursinya “Aku harus pergi.” Lanjutnya, Sooyoung tampak melihat kesekeliling ruangan. Terlihat beberapa suster dan dokter yang berlalu lalang memeriksa pasien, saat Lay akan bergegas pergi, tangan Sooyoung menggenggam erat tangan Lay.

Lay terdiam saat merasakan hawa hangat dari tangan Sooyoung, ia melihat tangannya sejenak lalu melihat Sooyoung “Wae?”

“Aku takut.” Ucapnya pelan, Lay terdiam sejenak.

“Choi Sooyoung” suara itu membuat kedua insan itu melihat kearah suara.

“Oppa!” Lay berbalik melihat Sooyoung yang sedang tersenyum pada namja yang baru saja datang.

TBC

Miracleindecember2

Maaf ya kalau masih ada  tipo, rada males ngedit *pemalas :D, lama ya updatenya. Jangan lupa Commentnya ya ^^ GOMAWO!!!

Iklan

5 thoughts on “Miracle in December [Part 1]

  1. Choi Je Kyung 2014/12/06 / 9:10 am

    Sepertinya cinta segitiga bakal terulang kembali yah 😦
    Moga2 ajah tidak ada yang bertengkar lagi :’)

  2. SooHunHan102012 2014/12/06 / 12:02 pm

    Lay baekhyun berantem mulu ihh..
    Bakalan ada cinta segitiga baru nih kayak nya.

  3. khusnul77 2014/12/06 / 1:08 pm

    aaa bakal seru ini sepertinya, apalagi couple ini jarang bgt hihi
    lanjut kak secepatnya hahaha 😀

  4. ismi 2015/06/18 / 1:10 am

    Hehe akhirny yg ktuggu2 mncul jga . Konfikny kykny bkl seru nh .. update soon y kak

    • sifixo 2015/06/21 / 11:08 pm

      sabar ya :D.. bakalan lama nih updatenya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s