Thater Kiss

Theater Kiss

Judul    : Theater Kiss

Cast     :  Choi Sooyoung | Oh Sehun | Xi Luhan

O.C      :  Kai | Chanyeol | Tiffany | Byun Baekhyun

Genre  : Romance

Lenght : Oneshot

Rate     : PG-16

A/N     : yang suka ya baca, yang nggak ya silahkan pergi. Nulisnya lagi males2an gara beritanya selingkuhan aku >> Luhan :'(.  Jadi kalau jelek, gagal dll, jangan salahkan saya (?). hahahaha :v

Happy reading… Typo masih bertebaran, mohon di maafkan  ^^

Theater Kiss

1… 3… 4… action

—————————————-

“Kau yakin akan masuk kesana?” Sooyoung hanya mengerutkan keningnya dan terus berjalan melewati beberapa pintu sebelum berhenti tepat di sebuah pintu yang setengah terbuka dihadapannya itu.

Sooyoung berbalik sebelum tangannya mengetuk permukaan pintu itu “Dengar, bagaimana pun mereka sudah kertelaluan. Apa hubugannya ciuman dengan pendaftaran, eoh? Dan kau juga. Kau itu senior mereka, kenapa harga dirimu dengan mudah terinjak-injak seperti ini?” tanyanya dengan emosi tertahan.

“Ta.. tap..” kalimat Tiffany terhenti saat melihat sosok yang berdiri di belakang sahabatnya itu, Sooyoung mengikuti arah mata Tiffany. Ia bebralik dan mendapati seorang Oh Sehun sedang berdiri dengan wajah datar dan dingin.

“Jika ingin ribut lalukanlah di camp kalian, jangan didepan camp kami.” Ucapnya datar lalu kembali menutup pintu itu, sebelum benar-benar tertutup Sooyoung menahannya dengan kaki jenjangnnya.

Sehun mendengus kesal begitu juga yeoja yang tengah menahan emosinya sedari tadi “Apa lagi?” Sooyoung tersenyum sinis, Sehun kembali membuka pintu campnya.

“Kemana namja yang bernama Kai?” Sehun melirik sudut ruangan di balik pintu, karena penasaran Sooyoung mencoba masuk kedalam. Namun langkahnya terhenti saat Tiffany menahan tangan kanannya, ia melihat sebuah kekawatiran di wajah cantiknya.

“Wae?” tanya Sooyoung pelan, namun Sehun masih bisa mendengarnya. Tiffany hanya menggeleng, mengisyaratkan agar Sooyoung tidak masuk kesana. Namun bukan Choi Sooyoung jika ia tidak keras kepala, ia menyempatkan melirik Sehun yang masih menunggunya untuk masuk.

“Tunggu disini, akan ku beri pelajaran bocah itu!” mendengar perkataan Sooyoung Sehun tersenyum singkat.

Brakk

Tubuh kurus itu terlojak kaget saat Sehun menutup keras pintu yang berada tepat di belakang Sooyoung. Hatinya semakin kesal saat melihat tatapan mata Sehun yang merasa tak terjadi apa-apa.

“Sekarang apa yang kau mau?” tanya Sehun sambil berjalanan menuju sofa yang berada di pojok ruangan. Sooyoung hanya melempar tatapan kesal “Bukanya tadi sudah tahu??” batinnya sembari duduk di samping Sehun, karena memang sofanya hanya satu dan panjang. Jadi mau tak mau yeoja berambut panjang itu harus duduk di sampingnya.

“Bukankah kau sudah tahu?…” Sooyoung terdiam menatap wajah yang menurutnya tampan itu “Ya! Soo, kembali ke rencana awal.” Sadarnya.

“Terpesona?”

Sooyoung hanya tertawa renyah “Ckck… ya.-” Sehun tersenyum menang, matanya tak lepas dari wajah cemberut yang ada dihadapannya “Tapi dalam mimpimu, OH SE-HUN!” senyum itu tak luntur dari wajah tampannya “Benarkah!”

Tubuh Sooyoung mematung seperti manequin saat tiba-tiba Sehun mendorong tubuhnya hingga terbaring di sofa, mata indahnya membulat sempurna saat wajah tampan itu semakin mendekatinya “A… apa yang akan kau lakukan eoh?” matanya langsung terpejam, lama tak merasakan apapun, perlahan matanya mengintip. Merasa bodoh dan malu, kesal kembali menyelimuti yeoja yang menyandang status ketua umum paduan suara di kampusnya.

“Bodoh, kau tidak akan masuk kedalam kriteria anggota kami. Baru begitu saja sudah hampir pingsan.” Ledek Sehun sembari membalik halaman majalah yang entah sejak kapan berada di tangannya.

Sooyoung tertawa garing, ia memandang tak percaya namja yang seolah dialah yang lebih tua disini “Ya! Walaupun aku masuk dalam kriteria di anggotamu.-” Sehun menghentikan jemarinya membalik halaman tersebut “aku tidak akan pernah mengikuti peraturan konyol yang kau terapkan di camp-mu ini! Arra?!” lanjutnya dengan sedikit penekanan di akhir kalimatnya.

Sebuah senyum tipis, lebih tepatnya smirk terlukis di bibir Sehun “Benarkah?” tubuh Sooyoung kembali menegang, saat ia melihat tatapan mata Sehun yang begitu tajam membuatnya sangat takut. Fikiran-fikiran negatif tiba-tiba melanda otak yeoja yang tengah mencoba terlihat lebih tenang.

“Ah… atau kau mau mencoba mengisi ini?” tangan Sehun meraih sebuah kertas yang sudah tersedia di atas meja. Sooyoung mengambil kasar kertas itu, lalu membacanya. “Shireo!!!” tolaknya cepat lalu membuang kertas itu kehadapan Sehun. “ Sudahlah, aku tidak mau banyak basa-basi. Urusanku disini hanya dengan Kai, bukan denganmu.” Sooyoung berdiri sambil membenarkan rok yang ia kenankan “Jadi aku akan kembali setelah anggotamu yang bernama Kai itu kembali!” lanjutnya dan bergegas pergi.

Namun belum ada 2 langkah sebuah tangah menghentikan langkah kakinya, Sooyoung berbalik ia melihat Sehun tengah menahan tangannya. Entah kenapa tiba-tiba saja detak jantung Sooyoung berdetak tak normal, perasaan takut akan apa yang akan dilakukan setelah ini. Dan…

Tanpa aba-aba Sehun menarik tubuh Sooyoung kedalam dekapannya, tak ada suara yang keluar dari bibir Sooyoung yang ada hanyalah tatapan bingung dan pasrah. Beberapa saat mata mereka bertemu terdiam dalam padangannya, mata indah Sooyoung kembali membulat sempurna saat ia merasakan ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Seperti ada jutaan kepakan sayap kupu-kupu yang berterbangan tanpa arah didalam perutnya. Sepersekian detik ia hanya bisa terdiam dan mencerna apa yang sedang terjadi, kedua tangannya terangkat sepeti seorang penjahat yang ketahuan oleh petugas, sedangkan Sehun terus melumat lembut bibir yang sejak tadi hanya diam tak merespon.

Sehun tak kehilangan akal, ia menggigit bibir bawah Sooyoung dan membuat yeoja itu tersadar dari keterkejutannya. Sehun kembali melumat bibir yang itu dengan ganas. Pukulan dan rontaan yang di berikan padanya tak membuatnya berhenti, tangan kanannya terus menekan tengkuk Sooyoung agar dan yang satunya mengunci tubuh kurus itu agar tidak bisa bergerak kemanapun.

Clek

Sebuah pintu dari dalam ruangan itu terbuka, nampak Chanyeol yang baru saja selesai mandi. Ia terdiam di depan pintu kamar mandi, “Oopss…” perlahan ia berjalan melewati kedua insan yang tengah berciuman itu dan langsung pergi keluar camp tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Sooyoung mencoba melepas pautannya dengan Sehun, namun namja itu tak mau melepasnya hingga keduanya sudah kehabisa oksigen.

“Hah… hah…” Suara nafas Sooyoung yang terngah-engah, matanya nyalang menatap namja yang juga sedang mencoba mengatur nafas. “Mwoya?” Sehun terdiam mendengar nada suara Sooyoung yang begitu serius, “Kau anggap ciuman hanya sebagai formalitas belaka? Sebagai peresmian anggota teater? Sejak kapan itu berlaku ha? Dasar brengsek!” matanya terasa panas, berani sekali seorang junior menicumnya hanya karena alasan konyol. Sooyoung mendengus kesal, menatap Sehun sejenak lalu pergi.

“Ya! Aku tidak mau terkena imbasnya kalau ini gagal. Kau tahu kalau dia mar-”

BRAK!!!

Tiffany terkejut dan hampir menjatuhkan ponsel yang ia pegang sekarang, ia melihat Sooyoung baru saja keluar dari dalam camp teater dengan wajah garangnya. Karena ia sedikit menjauh dari pintu, Tiffany menghampiri Sooyoung.

“Ap.. apa yang terjadi?” Tiffany tampak kawatir saat melihat mata indah Sooyong terselimuti oleh cairan bening “Apa yang Sehun lakukan padamu? Kau baik-baik sa-” kalimat Tiffany terhenti saat ia mendapat tatapan tajam dari sahabatnya itu, Tiffany hanya bisa diam ia tidak tahu apa yang terjadi didalam. Tanpa menjawab Sooyoung langsung pergi meninggalkannnya.

Melihat kedua yeoja itu sudah pergi, sosok Chanyeol dan Baekhyun langsung keluar dari balik dinding. Sejak tadi mereka memang mengintip apa yang dilakukan oleh kedua bidadari itu di camp teater mereka.

Mata indah itu terus memperhatikan pergerakan dosen di depan sana, namun tidak dengan otaknya. Otaknya tengah memutar peristiwa beberapa jam yang lalu, matanya menatap kosong sesuatu yang ada di depan kelas.

Sooyoung’s POV

Apa yang kau fikirkan Soo, kenapa kau jadi seperti ini. Eoh? Dasar junior brengsek! Berani sekali dia…

Flashback

Tanpa aba-aba Sehun menarik tubuh Sooyoung kedalam dekapannya, tak ada suara yang keluar dari bibir Sooyoung yang ada hanyalah tatapan bingung dan pasrah. Beberapa saat mata mereka bertemu terdiam dalam padangannya, mata indah Sooyoung kembali membulat sempurna saat ia merasakan ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Seperti ada jutaan kepakan sayap kupu-kupu yang berterbangan tanpa arah didalam perutnya. Sepersekian detik ia hanya bisa terdiam dan mencerna apa yang sedang terjadi, kedua tangannya terangkat sepeti seorang penjahat yang ketahuan oleh petugas, sedangkan Sehun terus melumat lembut bibir yang sejak tadi hanya diam tak merespon.

Sehun tak kehilangan akal, ia menggigit bibir bawah Sooyoung dan membuat yeoja itu tersadar dari keterkejutannya. Sehun kembali melumat bibir yang itu dengan ganas. Pukulan dan rontaan yang di berikan padanya tak membuatnya berhenti, tangan kanannya terus menekan tengkuk Sooyoung agar dan yang satunya mengunci tubuhnya.

“ANDWAE!!!” Teriaknya dalam hati, ia mengeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba fokus terhadap pelajarannya sekarang. Menghela nafas pelan.

Sudah hampir 3 hari Sooyoung tidak masuk kuliah, sakit. Dengan alasan sakit ia tidak masuk kuliah, selama 3 hari juga Tiffany tidak bisa menghubungi Sooyoung. Pergi ke apartemen Sooyoung? Disana tidak ada siapa-siapa. Lalu dimana dia?

Tiffany berjalana menuju ruang loker di perpustakaan, saat ia mengambil barang-barangnya.

“Kau tidak tahu dimana dia sekarang?” Tiffany tahu pemilik suara itu, ia menutup pintu loker dengan lesu lalu menggeleng pelan. Chanyeol menyandarkan punggunyadi loker, mendesah pelan sambil memainkan ponsel di tangannya. Tiffany melakukan hal yang sama, “Sebenarnya apa yang terjadi? Saat dia disana?” Chanyeol terlihat salah tingkah, Tiffany hanya menyerngitkan keningnya.

“A.. aku tidak tahu… aku kan tidak disana.” Ucapnya gugup.

Sehun terlihat gelisah di balik meja kerjanya, ia menatap foto yang bertengger di figura yang tergeletak di dalam laci. Tangannya meremas kuat benda tipis dengan coretan yang sudah tak terbaca karena basahnya. Ruangannya tampak kacau, raungan campnya terlihat seperti kapal pecah. Matanya terlihat sembab, hidungnya memerah.

“Argh!!!” ia melempar kertas itu ke pintu.

“Aw… aw… aw…” Sehun melirik pemilik suara, Kai. Kepala Kai terlihat dari balik pintu, Sehun hanya mendengus kesal.

“Pergi!” Kai buru-buru masuk kedalam, disusul dengan Chanyeol.

“Sudah kubilang perg-” | “Tidak ada kabar” kalimat Sehun terhenti, ia melihat kedua sahabatnya itu.

Kai dan Chanyeol berjalan melewati pecahan vas dan duduk di Sofa “Kami tidak bisa menemukannya, dia seperti hilang di telan bumi.” Chanyeol menatap sahabatnya bergantian, sebelum Sehun kembali ke tempat duduknya.

“Kami tidak bisa menemukannya, bahkan Fany nuna juga tidak tahu… apa yang harus kita perbuat.” Lanjut Chanyeol menyambung Kai.

Sehun terlihat begitu lelah, lelah fikiran, hati dan raganya ia duduk di kursinya sambil memijat keningnya, matanya melirik sebuah kunci yang ada di dekat figura itu. “S.. studio…” gumamnya.

Sehun segera mengambil kunci tersebut dan bergegas pergi “Ya.. ya… kau mau kemana eoh?” pertanyaan Kai menghentikan langkah Sehun “Kita lanjutkan teaternya!” singkatnya lalu pergi.

Kai dan Chanyeol saling memandang heran “Apa dia ingin kita melakukannya?” Kai mengangguk, lalu Chanyeol langsung mengambil ponsel dan menelpon seseorang.

Tiffany terus memandangi wajah Sooyoung, senyumnya tak pernah luntur saat melihat Sooyoung sudah berada di hadapanya. Sooyoung yang merasa terus diperhatikan merasa sedikit risih, ia meletakkan orange jus yang ada di tangannya.

“Ya! Kau mau aku jatuh cinta padamu?” Tiffany tertawa.

“Hah… Choi Sooyoung!!! Aku sangat merindukanmu! Emmm…” sahutnya sambil memeluk erat tubuh Sooyoung.

Sooyoung hanya tersenyum tipis “Nado..” ucapnya singkat.

Drrrt….drrrttt…

Tiffany melepas pelukannya, Sooyoung kembali meraih gelas orange jusnya dan kembali menikmati pemandangan yang di sajikan di luar cafe. Semilir angin memberikan sebuah rasa tenang di fikirannya, perpisahannya dengan seseorang yang di cintainya membuatnya seperti kehilangan dirinya. Hampir 1 minggu ia hanya menjalani hidupnya seperti patung di studio milik Luhan.

“Sooyoung-ah…” panggil Tiffany sambil memasukkan ponselnya kedalam tas.

Sooyoung menoleh dengan sedotan yang masih di mulutnya “Hmmm?” Tiffany tampak ragu.

“Bagaimana kalau kita bermain TOD?” Sooyoung tampak berfikir, “Semoga bisa sedikit menghibur.”

“Ok, siapa takut!” mantapnya, Tiffany tersenyum seperti tak percaya. Ia melirik bayangan hitam di balik pintu masuk.

“Hah… kenapa aku terus yang kalah, oke. Sekarang giliranku, jika aku menang kau harus melakukannya. Semua!” tantang Tiffany yang kesal karena ia selalu kalah. Sooyoung hanya bersmirk ria, saat melihat sahabatnya harus malu karena ia selalu memilih dare. Iya tahu jika Tiffany paling tidak akan memilih turth, karena ia tahu apa yang akan di tanyakan oleh Sooyoung.

Botol kembali berputar, ini sudah yang ke 7 kali. Dan Tiffany terdiam ketika ujung botol itu mengarah pada Sooyoung, Sooyoung hanya bisa terdiam. Ia mendengus kesal, “Mati kau Choi!!” batinnya.

Sooyoung terlihat resah saat melihat Tiffany sangat bersemangat, mata indah Tiffany seperti mencari seseorang. “Turth or dare?” tanpa berfikir Sooyoung langsung memilih Dare.

Tiffany tersenyum sumringah “Jangan menyesal nyonya Choi” Sooyoung hanya tersenyum malas.

“Kau lihat pintu itu?” Sooyoung mengangguk “Utarakan cintamu pada orang yang pertama kali masuk.”

“Ne?” Sooyoung hampir menyemburkan minumannya saat mendengar tantangan aneh dari “Hmm.. siapapun orangnya, mau tua atau muda, kaya atau miskin, bos atau pelayan. Kau harus menyatakannya.” Lanjutnya mantap.

“Mwo? Kau gila?” protes Soo.

“Ne, tadi aku juga harus malu karenamu.”

“kalau yang masuk pertama adalah yeoja?”

Tiffany tampak berfikir “Hmmm… berpura-puralah mengalami kelainan.” Jawabnya entang. Sooyoung hanya mendengus kesal, mau tidak mau dia harus menerimanya. 3 menit, 4 menit berlalu hingga 10 menit tak ada yang masuk, Sooyoung mulai kesal ia melirik jam yang melingkar di tangannya kanannya.

“Sudahlah, tidak akan ada yang masuk!” Sooyoung bersiap untuk pergi, namun pergerakannya terhenti saat mendengar suara riuh dari arah pintu “Andwe!!!” batinnya.

Waktu seakan berhenti, tubuh tinggi itu langsung terduduk saat melihat sosok yang baru saja masuk. Tiffany tersenyum sumringah, “Nah… lakukan dare-nya sekarang.” Sooyoung masih terpaku melihat ketiga namja yang baru saja duduk di sebuah sofa di dekat stage.

“Oh – Se – hun” “Bisakah kita hentikan permainan ini?” pinta Sooyoung, namun Tiffany segera menggeleng, ia menunjuk sosok Sehun yang sedang bercanda dengan Kai dan Chanyeol.

“Shireo!! Ak… aku akan melakukan apapun dan memberikan apapun yang kau mau. Asal kita batalkan dare ini, bagaimana?” Sooyoung memelas.

Tiffany menggeleng “Tidak bisa, lakukan sekarang! Aku sudah 6 kali malu karena ulahmu!”

“Tapi ini soal perasaan, aku tidak bisa… apa lagi dia… dia Sehun.” Tiffany tidak merespon dan hanya mempermainkan ponselnya. Sooyoung hanya mendengus kesal, perlahan ia bergerak.

“Kau yakin ini akan berhasil?” Tanya Kai diiringi dengan tawa Chanyeol dan Sehun.

Sehun melirik kaca jendela yang menampakan sosok Sooyoung yang perlahan mendekat “Lihat saja.” Jawabnya percaya diri.

“Maaf.” Ketiga namja tampan itu menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara Sooyoung, Sehun menyeringai pada Kai dan Chanyeol sebelum menghampiri Sooyoung.

“Ne?”

Sooyoung tampak ragu “Ak.. aku… aku tidak tahu apa yang yang harus aku katakan, tapi. Ah…” sangat sulit untuk mengatakannya, Sooyoung menggigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa malu dan takutnya. “Wae?” suara Sehun membuat Sooyoung menatap namja bertubuh tinggi yang sedang menunggunya berbicara, tatapan dingin dari Sehun membuat Sooyoung semakin ragu, sesekali ia melirik Tiffany. Bukannya memperhatikan, gadis itu malah asik bermain dengan ponselnya. “Awas kau!”

“Sebenarnya apa yang mau kau katakan?” desak Sehun.

“Ne?” Sooyoung kembali gugup “Ak.. ak.. aku… aku menyukaimu!” ucapnya cepat sambil menutup matanya.

“Woooo~~~” terdengar suara Chanyeol dan Kai yang menyorakinya.

“Kau serius?” suara dingin Sehun membuat mata Sooyoung terbuka memandangnya, pandangan mereka bertemu. Tanpa disadari wajah Sehun semakin mendekat “Apa kau hanya mempermainkanku? Karena patah hati?”

“NE!?” Sooyoung tersadar dengan jarak mereka yang hanya kurang dari 10 cm. “Aku bertanya, apa kau hanya mempermainkanku?” Sooyoung bergerak mundur saat Sehun terus mendekat.

“Bi.. bisakah bicara dengan cara bi.. biasa?” tanyanya tergagap, saat merasakan deru nafas Sehun menerpa permukaan kulit pipinya.

“Wae?” bisik Sehun dan membuat Sooyoung merinding, “Sial, apa sih maunya bocah ini?” batinya kesal.

Tangan Sooyoung bergerak mendorong tubuh Sehun untuk menjauhinya, namun apa. Namja itu malah menarik tangan itu dan menarik tengkuk Sooyoung. Mempertemukan bibirnya dengan Sooyoung, Tiffany, Kai dan Chanyeol hanya bisa menganga melihat aksi Sehun.

“Daebak…” seru Kai.

“Aku tidak akan meragukannya sebagai ketua..” Sahut Chanyeol.

Drrrt… drrttt

Chanyeol melirik ponselnya “Mwoya? Kenapa jadi seperti ini?” jari Chanyeol bergerak lincah “Jadilah penonton yang baik, ne? J” balasnya lalu melirik Tiffany.

Sehun’s POV

Awalnya aku hanya mengecupnya singkat, kurasa ia sangat terkejut dengan apa yang ku lakukan. Ekspresinya sama seperti saat di camp “Aku juga menyukaimu, nona…” ucapnya sambil mengelus kulit mulus pipinya. Masih dengan keterkejutan di wajahnya tanpa menunggu jawabannya, aku kembali menciumnya dan menarik pinggang Sooyoung agar lebih mendekat ke arahku. Aku tak perlu menundukkan kepalaku karena tubuhnya tak kalah tinggi. 3 … 5… 10 tak ada respon, aku memeluk pinggannya semakin erat dan kurasakan ia menggeram karena merasakan sakit. Kesempatan itu kulakukan untuk memperdalam ciumanku, sesekali aku melumat bibir ranum yang terasa manis bagiku, aku merasakan balasan darinya. “Hyung.. dia membalasku..” semakin ku tekan tengkuknya, dia membalasku? Aku menarik diri darinya saat kami sudah kekurangan oksigen, kudengar suara riuh tepuk tangan.

“A… ap.. apa ini? In.. ini tidak benar…” aku cemas saat melihat perubahan ekspresinya, matanya tiba-tiba berair dan memandangku dengan tatapan penuh tanya, dan sangat susah mengartikannya. Tatapan itu sama seperti saat aku melihatnya di studio.

Air matanya mengalir di pipinya, tanganku mencoba meraih wajahnya dan ibu jariku bergerak mencoba menghapus airmatanya “Kenapa kau lakukan ini?” pergerakanku terhenti saat ia bertanya padaku.

“Kenapa kau begitu mudah melakukannya tanpa tahu perasaanku yang sebenarnya?” ucapnya dengan emosi yang tertahan. Melepaskannya, “Karena ini demi Luhan…” aku ingin melihatnya ekspresinya saat nama itu kusebut, aku sudah tidak tahan. Tiba-tiba tubuhnya bergerak mundur dan perlahan berjalan menjauhiku dan masuk kedalam gedung cafe. Aku berjalan ke tepi balkon, ku lihat ia berlari masuk kedalam mobilnya. Beberapa detik kemudian, mobil itu perlahan bergerak dan keluar dari are cafe.

Ruangan studio ini seperti gudang, hanya ada tumpukan kardus-kardus yang tersusun rapi di sudut-sudut ruangan. Kain-kain putih yang menyelimuti setiap perabotan yang ada di sini, membuat kesan terbengkalai. Sehun meniup debu di sebuah meja biliard yang ada di tengah ruangan, bola-bola itu masih utuh di tempatnya, saat terakhir kali ruangan ini di tinggalkan. Kaki Sehun beranjak menuju pantri yang terletak di sudut ruangan, mendengus kesal menatap setiap sudut ruangan ini.

“Kau tahu, gara-gara kau hidupku harus susah.” Gumamnya sambil bersandar pada tiang yang memishkan pantri dengan ruang main.

Clek..

Sehun menegakkan tubuhnya dan melihat siapa yang membuka pintu, panik. ia panik saat mengetahui siapa yang menginjakkan kakinya di dalam ruangan yang remang-remang itu. Sehun bergegas mencari tempat untuk bersembunyi, ia berdiri dibalik dinding pantri.

Brak…

Sehun mengintip saat Sooyoung meletakkan sebuah kardus besar di meja biliard, mata itu terus mengikuti pergerakan Sooyoung. Gadis itu terlihat sedang memandangi setiap sudut ruangan, “Apa yang dia lakukan disini?-”

“Kau tahu bahkan saat aku berciuman dengan Sehun, aku merasakan itu adalah dirimu. Mulai sekarang, aku akan merelakanmu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi. Jika ini maumu, aku tidak bisa berbuat apapun. Kau seperti di telan bumi, Luhan-ah. Aku akan menyimpan semua pemberianmu di sini, aku akan menutup semua lembar tentangmu. ”ucap Sooyoung, lalu pergi meninggalkan kardus itu. Suara pintu tertutup terdengar, Sehun langsung keluar dari persembunyiannya.

Sehun terdiam mendengar perkataan Sooyoung “Jadi itu balasan untuk Luhan?”

“Kau memang menyusahkan.” Gumamnya saat melihat kardus milik Sooyoung yang ada dihadapannya.

“Nuna, kau mau membeli tiket?” Suara Chanyeol membuyarkan lamunan Sooyoung.

“Eh?” Chanyeol hanya menampakan cengirannya “Ini, hanya 10rb won. Kau bisa melihat bagaimana aksi anak teater, di aula nanti malam. Bagaimana?” Sooyoung tampak ragu dan berfikir.

“Sudahlah kita beli saja, aku yang akan membelikan tiket untukmu. Ja… kami akan melihatnya.” Sahut Tiffany sambil menarik tiket dari tangan Chanyeol. Sooyoung hanya memasang senyum simpul.

Aula tampak begitu gelap, hanya ada satu titik sinar di tengah stage. Dengan flash dari ponsel Sooyoung dan Tiffany perlahan berjalan mencari nomor kursinya. “4 dan 5” ucap Tiffany.

Sooyoung menghentikan kakinya “4 dan 5? Bukankah itu deretan kursi paling depan?” Tiffany mengangguk.

“Hmm… itu Kai!” ucapnya sambil melambaikan tangan pada Tiffany, Sooyoung dan Tiffany duduk di kursi yang telah di sediakan. Tak lama alunan musik mulai terdengar, seorang gadis muncul dari bawah stage. Suara merdunya mendominasi seluruh ruangan, alunan lagu Lyn 보고 싶어운다 menggema di seluruh aula, Sooyoung melihat keadaan sekitar yang mulai ramai.

“Aku ada urusan sebentar, aku akan segera kembali..” pamit Tiffany, dan dibalas anggukan Sooyoung. Setelah kembali dari studio milik Luhan, Sooyoung sering melamun. Seperti saat ini ia hanya menatap sebuah titik cahaya yang tak berarti.

“Wah, nuna. Kau datang…” suara Chanyeol mengejutkan Sooyoung, hanya senyum yang ia tampilkan. Chanyeol langsung duduk di samping Sooyoung, “Kau tidak ikut dalam pentas?” tanya Sooyoung sambil menunjuk stagenya.

Chanyeol mengangguk “Aku mengikutinya, sejak awal aku ikut. Kau harus memberiku tepuk tangan yang keras nanti.” Ucapnya dengan percaya diri.

“Percaya diri sekali kau.” Keduanya tertawa ringan, sedetik kemudian. Sorot lampu membuat ruangan aula menjadi sedikit terang, “Aku ke backstage dulu ya.” Pamit Chanyeol bergegas berlari dan menghilang di kegelapan di samping stage.

Sooyoung tampak fokus menonton, terlihat dua orang namja sedang memainkan peran mereka masing-masing. Kisah itu bercerita tentang seorang kakak yang mencoba bertahan dan berperang melawan penyakitnya. Di set pertama, seting sebuah studio yang dengan barang-barang yang sudah tertata rapi, disana terlihat Jongdae sebagai sang adik sedang berdiri bersandar di sebuah dinding dan Jungmyeon sebagai sang kakak bersandar di meja biliard. Mereka berdua memerankan perannya dengan apik, semua kalimat dari skenarionya terucap seperti nyata dan membuat orang-orang yang menonton terenyuh, termasuk Sooyoung, matanya tidak berkedip sama sekali. [ … ]

Lampu mati beberapa detik, dan kembali menyala. Melihatkan setting sebuah ruangan pasien, sebuah kursi roda masuk kedalam stage. Jongdae mendorong kursi itu menuju ranjang pasien disana. Tatapan kesal dan sedih terlihat di wajah Jongdae, ia membantu sang kakak istirahat di atas ranjang.

“Kumohon…” suaranya sangat lirih.

“CUKUP!!!” suara Jongdae menggema, mengisyaratkan sebuah rasa sakit dan kesal. Akting Jongdae sangat sempurna “Kau harus memberi tahunya, kau tidak ingin dia hidup seperti robot lagikan? Jadilah pria sejati, jangan pernah bersembunyi seperti ini.” Lanjutnya, Jungmyeon hanya menunduk. [ … ]

Lampu kembali mati, setting tempat telah berubah sebuah ruangan. Terlihat Jongdae sedang duduk sambil membaca majalah, tak lama seorang Chanyeol masuk sambil membawa peralatan mandi, kini terdengar suara tawa penonton. Begitu juga Sooyoung, namun hanya sebuah senyum lebar terlukis di bibirnya. Bagaimana tidak, Chanyeol masuk kedalam set hanya menggunakan boxer, gayung dan peralatan mandi didalamnya, sarung rambut berwarna pink yang telah membungkus rambutnya. Dengan tingkah konyolya ia mengucapkan kalimatnya lalu masuk kesebuah pintu yang langsung mengarah kesamping panggung (kayak pintu kemana saja doraemon), sebelum menghilang ke backstage ia menyempatkan melambaikan tangan pada semua penonton dengan cengirannya. Dan membuat para penonton kembali tertawa, namun suasana kembali serius saat seorang gadis masuk kedalam set dengan menahan emosi.

“Kemana namja yang bernama Kai?” Jongdae hanya melirik malas gadis itu.

“Wae?” tanya Jongdae malas.

Brakk

Tubuh kurus itu terlojak kaget saat Jongdae berdiri sambil menggebrak “Ada urusan apa? Seharusnya kau tahu bagaimana bersikap sopan nona cantik.”

“Bukankah kau sudah tahu?…” gadis terdiam menatap wajah yang menurutnya tampan itu.

“Terpesona?”

Gadis itu hanya tertawa renyah “Ckck… ya.-” Jongdae tersenyum menang, kedua tangannya ia masukkan kedalam celana dan perlahan mendekati gadis itu matanya tak lepas dari wajah cemberut yang ada dihadapannya “Tapi dalam mimpimu, KIM JONG DAE!” senyum itu tak luntur dari wajah tampannya “Benarkah!”

Tubuh Sooyoung menegang “I… ini…” ia mencari sosok yang ia yakini berada di balik ini semua, matanya terus mencari keseluruh ruangan namun ia tidak menemukannya. Siapa lagi jika bukan Oh Sehun, dan ia juga heran kenapa Tiffany tidak kembali.-

“Bodoh, kau tidak akan masuk kedalam kriteria anggota kami. Baru begitu saja sudah hampir pingsan.” Suara Jongdae membuat Sooyoung kembali melihat kepanggung.

Sooyoung’s POV

“Apa ini?” aku sudah tidak bisa menahan air mataku, dadaku terasa sangat sakit. Perasaan takut akan sesuatu tiba-tiba menghantuiku. Kenapa semua yang ada di panggung sama seperti apa yang aku alami. Fikiranku kembali mengulang ke set pertama dan kedua “Apa.. apa Luhan…?” aku yakin ini pasti hanya kebetulan, aku yakin ini bukanlah kisah Luhan dan aku. “Tidak… tidak… tidak mungkin!” aku langsung berdiri dan berjalan meninggalkan aula. Aku berjalan dengan cepat melewati barisan kursi penonton. Aku mencoba menghentikan airmata ini, aku yakin ini bukan kisahku dan Luhan, “Tidak… Argh” aku meringis saat tubuhku menabrak sesuatu, bukan. Bukan menabrak, aku merasakan aroma yang tak asing bagiku, tangannya mengurung tubuhku dalam dekapannya. Sebuah harapan, beraharap jika dia adalah “Luhan-” mataku membulat sempurna saat melihat siapa orang yang memelukku sekarang.

“Ini memang kisahmu! Kisah seorang gadis yang ditinggal pergi oleh kekasihnya, tanpa tahu alasan sebenarnya dan sang kekasih menitipkannya pada sang adik.”

Author’s POV

Sebuah senyum tipis terlukis dibibir Sooyoung, berharap aroma wangi dari tubuh yang memlukanya adalah “Luhan-” matanya membulat sempurna saat melihat siapa orang yang memeluknya sekarang.

“Ini memang kisahmu! Kisah seorang gadis yang ditinggal pergi oleh kekasihnya, tanpa tahu alasan sebenarnya dan sang kekasih menitipkannya pada sang adik.” Dengan lembut Sehun mengutarakan yang sebenarnya, tangannya menepuk-nepuk punggung yeoja yang sedang mencerna semua apa yang di diengarnya.

Sooyoung mendongakkan kepalanya, manatap Sehun penuh tanya dan tak percaya. Rahangnya mengeras, air matanya terus mengalir membasahi wajahnya, Sehun tersenyum miris. Mata namja itu juga menitihkan airmata “Mi.. mianhae…” hanya satu kata yang keluar dari bibir Sehun, kembali mengeratkan pelukannya, menyembunyikan kepalanya di leher Sooyoung menahan isakan yang ingin sekali ia teriakkan.

Tubuh Sooyoung melemas, isakannya pecah tubuhnya bergetar mendengar kenyataan bahwa kekasihnya, orang yang ia cintai dan mencintainya selama 2 tahun terakhir ini telah pergi. Ia menangis sejadi-jadinya, tangannya terkulai lemas ia menunguk menyembunyikan tangisnya di pundak Sehun.

“Gomawo…”

 “Untuk?”

“Untuk semuanya… permainan theater kiss.”

“Itu cara satu-satunya agar kau tidak terluka lebih dalam”

“Aku harap Luhan bahagia disana.”

“Dia akan lebih bahagia jika… kau mau menikah denganku..”

“…”

“…”

“Aku mau.”


absurd? aneh? gak jelas? -_- lagi gak semangat gara2 luhan.. berhasil/gak,  penting publish. Don’t be Siders!!!! Keep RCL… ^_^

Iklan

12 thoughts on “Thater Kiss

  1. tyasyasyaaas 2014/10/28 / 9:37 pm

    gooddddd kkkk;)

  2. yeni swisty 2014/10/30 / 8:21 pm

    AAAAA… sumpah aku suka ceritanya,
    apa lagi ada sad nya, walaupun sad nya kurang gereget..
    dan di sini Sooyoung To the point banget jawabnya…
    Next Part di tunggu

    • sifixo 2014/10/30 / 9:11 pm

      wah… makasih udah nyempetin baca 😀
      iya nih lagi gak konsen -_- yah jadinya seperti itu :v

  3. MurdaGirl 2014/10/30 / 8:50 pm

    anjir nyesek pas baca akhirnya. dem luhan tega banget ninggalin soo tanpa izin/g
    kak kangen banget baca ff kakak
    aku sifiholic loh /g
    hehe

    • sifixo 2014/10/30 / 9:15 pm

      Aslinya ni ff gak ada sedih2nya … -_-
      gak tahu kenapa bisa ceritanya berubah dan … ada Luhan?
      ah ya sudahlah… yang penting bisa buat selingan 😀
      wah… muncul lagi nih sifiholic??? :v
      makasih ya udah nyempetin baca.. 🙂
      ini habis uts rencananya mau ngepost 4 ff langsung tapi gak tahu nanti… biasalah anak kuliahan yang terlalu rajin buat tugas -_- :v #curcoldikit

  4. soohaelin 2014/10/31 / 7:18 am

    anjirr, sehunnn~ dikau ternyata menrencanakan sesuatu. luhannya kesian yah:'(
    nice ffnya kak. ditunggu karya selanjutnya 😀

  5. nisaandryani 2014/11/01 / 12:15 am

    ohh ternyata sehun ade nya luhan
    dasar sehun pas dibagian akhirnya modus bgt itu wkwk
    nice ff 😀

  6. mikaudrey 2014/11/02 / 1:58 am

    Awalnya bingung sama ceritanya
    Tapi keren kok ff nya
    Kasian luhan nyaa
    Soo sama thehun aja kkk
    Sehun juga main ngajak” soo nikah
    Untung soonya mau
    Good good ditunggu ff lainnya yaa

  7. ayukdam 2014/11/22 / 9:14 pm

    Ow ternyata luhan udah meninggal…
    Ff.ny bagus chingu….
    Keren kisah nyata dibikin kisah diteater

  8. yeni swisty 2014/12/28 / 12:23 pm

    Mungkin aku sedikit susah ngebayangin soalnya, disitu ada pemain yg belum ku kenal. Tapi bagus aku suka..
    Itu si jongsuk dateng sebagai arwah atau apa?
    Next part di tunggu 🙂 #fighting ‘_’)9

    • yeni swisty 2014/12/28 / 12:26 pm

      Salah tempat :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s