[Oneshot] Breakable Heart

Breakable Heart

Title     : Breakable Heart

Cast :

  • Kim Jongin – Kai
  • Choi Sooyoung

OC   :

  • Lee Taemin – Kim Taemin
  • Choi Minho
  • Choi Hyun Jin – Sooyoung’s Father
  • Jung Krystal

Genre : Romance, Drama, Sad

Rated : G

Disclaimer : Semua Cast didalam ff ini adalah dirimereka sendiri, saya hanya meminjam nama mereka dan tidak bermaksud melecehkan atau apapun itu.  Jika ada kesamaan atau apapun yang ada di ff ini silahkan hubungi saya di twitter/fb. Ini murni dari otak saya sendiri, setelah mendengar kedua lagu itu saya langsung menulis ff ini.  Ini hanya fiksi belaka, jika tidak suka jangan baca. ^^

Warning : Typo dll [mohon dimaafkan]

 

Breakable Heart

Klinting~~

Suara yang berasal dari gantungan yang tergantung di jendela kamar yang sudah terbuka itu mengusik pendengaran seorang namja yang tengah membaca buku di ranjangnya. Namja itu meniadakan novelnya begitu saja, dan beranjak keluar menuju balkon yang berada didekat jendelanya. Kakinya bergerak masuk kedalam sandal rumah yang lembut, perlahan melangkah. Sebuah senyum terlukis di wajahnya, tangan kanannya perlahan menyusup kesaku celana putih panjangnya. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah halaman belakang rumah yang berada tepat di samping rumahnya, ia tampak resah menatap yang ternyata tidak ada siapapun.

“Pergilah…” Suara itu membuatnya memutar tubuhnya kebelakang, ia tersenyum singkat sambil menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas di belakangnya.

“Pergi kemana?” tanyanya sambil menggesekkan kakinya dilantai. Sang pemilik suara yang tak lain adalah kembarannya itu perlahan mendekatinya.

“Jangan bohong, aku tahu sudah hampir 3 bulan kau mengintainya.” Balasnya.

Kai tertawa renyah “Siapa yang kau maksud?” cobanya mengelak.

Taemin menunjuk kearah halaman rumah yang sedari tadi diintai oleh saudara kembarnya itu “Gadis itu, kau menyukainya?” tanyanya to the point.

Kai sedikit terkejut, namun ia berfikir apa gunanya ditutupi lagi “Ya, aku sangat menyukainya. Sejak pertama bertemu dengannya di toko bunga 3 bulan yang lalu…”

Flashback [VO]

“Paman, apakah masih ada mawar merah?” saat itu aku sedang bertanya apakah ada bunga mawar merah. Paman itu menjawab tidak, dia bilang..

“Maaf, tapi semua mawar merah telah di pesan tuan.”

“Dipesan?” Aku mulai bingung mencari kemana lagi aku harus pergi, karena saat itu hari sudah hampir malam dan hanya itu satu-satunya toko bunga yang masih buka. Saat aku terjebak dalam masalah di otakku, tiba-tiba aku mendengar suara lonceng yang memang terpasang di pintu toko berbunyi. Aku berbalik dan seketika itu juga aku terdiam “Kenapa?”

Aku terdiam, terpana pada sosok gadis yang sedang berjalan mendekatiku. Aku mencoba untuk tersenyum padanya, namun apa. Aku hanya mendapat tatapan dingin darinya, dia tak melihatku dan berjalan melewatiku. Kulihat penjual itu memberikan semua bouqet mawar merah itu pada gadis dingin berwajah malaikat itu. Pada sang penjualnyapun dia tidak berbicara dia hanya diam, diam dan diam. “Apa dia bisu?”. Tidak… dia tidak bisu, saat dia sudah keluar dari toko itu aku berjalan mengikutinya.

“Pe.. permisi..” aku sangat gugup menyapanya. Kulihat ia menghentikan langkah kakinya, perlahan ia berbalik dan melihatku. Sama, sama saja hanya tatapan dingin yang kudapat. “Bisakah aku membeli satu saja bunga mawar itu? Aku harus memberikan bunga itu pada ibuku. Sudah lama aku tidak mengunjunginya.” Pintaku. Tiba-tiba ia mengambil 5 bunga mawar yang ada di bouqetnya dan memberikannya padaku.

“Tidak usah..” singkatnya lalu berbalik dan pergi meninggalkanku. “Lalu apa yang terjadi?” satu hal yang tak mungkin aku lupakan. “Apa?” Dia tersenyum sebelum berbalik dan pergi.

Backto…

Kai’s Pov

“Daebak…” aku menatap Taemin, seperti dia tahu pertanyaanku “Hmmm.. semenjak kepergian Paman Choi dia menjadi pendiam.” Aku terdiam.

“Paman Choi? Siapa dia?” tanyaku penasaran.

Taemin tersenyum singkat “Dia adalah tetangga baru kita setelah kau berangkat ke seoul, keluarga Choi pindah kemari satu jam setelah keberangkatanmu. Mereka hanya datang berempat. Paman Choi, Choi Sooyoung, dan adiknya. Satu lagi adalah pembantunya, bibi park. Paman Choi sekeluarga adalah keluarga yang sangat baik, namun…” kulihat mata Taemin terlihat berair.

“Namun? kenapa? Apa yang terjadi?” tanyaku antusias, dan saat itu juga seseorang yang aku tunggu tiba. Choi Sooyoung, gadis itu sedang berjalan menuju tepi kolam renang yang ada dihalaman belakang rumahnya. Mataku tak henti-hentinya mengikuti pergerakannya.

“Keluarganya mengalami musibah..” sesaat aku mengalihkan pandanganku pada Taemin “12 Maret 2012, rumahnya di rampok. Bukan hanya menggasak semua barang-barang yang ada dirumahnya. Namun juga nyawa paman Choi, semenjak itu Sooyoung menjadi pendiam dan tidak pernah berbicara lagi..” Seperti dihantam batu tepat di tengkukku, aku menatap gadis yang sedang duduk diam ditepi kolam renang.

“Lalu bagaimana dengan Minho?” Taemin menghela nafas “Dia masuk kerumah sakit jiwa, karena ia menyaksikan bagaimana sang Ayah pergi. Perampok itu membunuh paman Choi dengan sebilah samurai, untung saja saat itu Sooyoung tidak tertangkap.”

“Lalu bagaimana di bisa selamat?” Taemin ikut melihat sosok gadis menjadi topik pembicaraan kami.

“Polisi menemukannya bersembunyi di sebuah ruangan kecil di bawah tangga…”

Dermaga

Kai menatap sendu punggung Sooyoung, ia ragu ingin menghampirinya. Kini keduanya sedang berada di dermaga, dermaga ini adalah tempat gadis yang sekarang sedang menjadi pusat perhatian Kai itu menenangkan diri.

Sooyoung memandang sendu pantulan dirinya di permukaan air, tik… sebutir air mata baru saja jatuh dan menyatu dengan air dermaga. Apa lagi yang ia tangisi jika tidak sosok sang ayah, dia merindukan sosok yang selalu melindunginya. Inagatan-ingatan akan kenangan bersama sang ayah menusuk tepat ke ulu hatinya, kedua tangannya meremas kuat kayu jembatan yang ia duduki itu. Suaranya tertahan, tangisnya pecah tanpa suara.

“Sooyoung-ah.. saat kau lulus nanti. Ayah akan mengajakmu keparis ne?” semakin erat pegangannya saat semua perkataan sang ayah kembali terngiang di ingatannya. Kai merasa kasihan saat melihat tubuh gadis itu bergetar, ia yakin gadis itu sedang menangis.

“Ab…aboji…” suaranya bergetar.

Tap… tap.. tap…

Perlahan tubuh itu mulai tenang saat indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki, Sooyoung menatap dingin pantulan bayangan namja yang berdiri disampingnya.

“Kau masih ingat denganku?” Kai bertanya, ia bisa melihat dengan jelas tatapan dingin yang ditujukan padanya. Namun Kai tahu jika itu adalah pelampiasannya karena rasa rindunya pada sang ayah. Namun Sooyoung tak menanggapinya, gadis berambut panjang yang di biarkan tergerai dan tertiup angin itu bergegas akan pergi. Namun saat akan meninggalkan Kai, tiba-tiba sebuah tangan menahan langkahnya. Sooyoung berbalik dan menatap bergantian tangan kuat Kai yang mencengkramnya dan Kai yang berharap ia untuk tinggal di tempat.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?” Akhirnya pertanyaan yang sudah 4 bulan ia pendam itu terucap dari bibirnya.

Sooyoung tersenyum sinis, dan mencoba melepas cengkraman Kai “Apa urusanmu?” tanyannya dengan penuh penekanan.

“Aku hanya tak ingin melihatmu terus begini?” jawab Kai memelas.

Sooyoung tersenyum singkat, matanya kembali berair bibirnya bergetar mencoba berkata “La… lalu apa perdulimu? Kau tak mengenalku dan begitu juga aku. Aku tidak mengenalmu, jadi-jangan-urusi-kehidupan-ku, karena aku tidak pernah mengurusi hidupmu!” ucapnya dengan nada tinggi sambil menghempaskan tangannya dan membuat Kai melepas cengkramannya. Sooyoung menatap Kai tajam, ia tak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang.

“Jangan pernah membentak orang tanpa alasan, ayah tidak pernah mengajari putri ayah untuk berbuat kasar. Arra?” Ia tak pernah membentak orang lain, ia sadar jika ia sudah kasar pada Kai. Gadis itu berbalik membelakangi Kai dan mengambil nafas pelan, mengartikan apa yang baru saja ia lakukan.

“Mianhae…” lirihnya, lalu beranjak dari tempatnya.

Greb..

Namun langkahnya kembali terhenti saat Kai memeluk tubuhnya dari belakang, mengunci tubuh gadis itu dalam dekapannya. Terlihat terkejut gadis itu hanya diam, ia tak tahu harus berbuat apa, mata indah nya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

“Kumohon, jadilah Sooyoung yang dulu. Aku tahu kau tersiksa, jangan kurung dirimu dalam kesendirian dan bagilah kesedihanmu denganku.” Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya itu. Ada sebuah ketenangan yang dirasakan gadis itu, ada sebuah desiran aneh yang dia rasakah. Ia bahkan tak mengenal namja ini, tapi kenapa begitu nyaman, memejamkan matanya sesaat meresapi apa yang ia rasakan sekarang. Namun tiba-tiba, ‘Bugh..’ Sooyoung memukul Kai dengan sikunya, hingga pelukan itu terlepas.

“Jagan pernah urusi, urusanku!” ucapnya dingin. Kai hanya bisa meringis menahan sakit yang menyerang perutnya, gadis itu berbalik dan mendorong Kai hingga namja itu tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya dan.

Byurr…

Sooyoung tak memperdulikan namja itu, lalu pergi. Membiarkan namja itu tercebur di dermaga. Ia tak tahu jika Kai tidak bisa berenang, Kai berusaha meraih tepi jembatan dan mencoba untuk berenang sebisanya. Kai menatap sendu punggung yang perlahan menjauhinya.

“Arkk…” pekik Kai saat merasakan keram di kakinya, “Tolo~ blub.. blub… tolong~~…” ia berteriak sebisanya, dadanya terasa sakit karena tekanan air. Perlahan tubuh itu tak tampak di permukaan, namja itu pasrah matanya mulai terpejam seiring tubuhnya yang tenggelam.

Taemin terlihat kawatir, ia berjalan terburu-buru menuju dermaga. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok Sooyoung yang tak jauh darinya. Taemin tampak berfikir, namun ia langsung berlari menghampiri Sooyoung yang baru saja keluar dari kawasan dermaga.

“Sooyoung-ssi..” gadis yang sedari tadi tertunduk itu terkejut saat melihat Taemin, ia menatap namja berambut pirang itu.

Taemin tersenyum miris “Apa kau melihat Kai?” Sooyoung tampak bingung, tak mengerti “Ah… apa kau melihat seorang namja yang mirip denganku?” Sooyoung terdiam, ia wajah, senyuman, suara namja yang ia temui didermaga. Sooyoung hanya menggeleng pelan.

Taemin kembali tersenyum pahit saat melihat tatapan Sooyoung “Huh, kau tidak melihatnya. Aku hanya kawatir, sejak tadi pagi dia belum pulang dan aku melihat gpsnya berada di sekitar dermaga. Aku takut jika dia bermain di sini, bocah itu tidak bisa berenang.”

Degg…

Sooyoung terdiam, apa yang baru saja ia lakukan. Ia mendorong Kai hingga terjebur ke dermaga. Tanpa menjawab gadis itu langsung berbalik dan berlari kembali kedermaga, “Wae? Kenapa dia pergi begitu saja?” gumam Taemin kesal.

Langkah kaki Sooyoung terhenti di tempat dimana ia menjatuhkan Kai, ia tampak panik. Wajahnya terlihat begitu pucat saat ia tak melihat apa-apa disana, hanya hamparan air yang ia temukan. “Di… dimana dia?” lirihnya sambil menahan airmatanya.

Byurrr

Taemin terdiam saat mendengar suara orang masuk kedalam air, ia mempercepat langkahnya menuju dermaga.

Kedalaman air yang terlihat nyata dimatanya, Sooyoung berenang lebih dalam mencari sosok yang telah ia celakakan. Sooyoung tampak kawatir, ia terus bergerak kesana kemari mencari sosok Kai. Sedangkan Kai sudah tak sadarkan diri, mata indah Sooyoung menangkap kilatan perak tak jauh darinya. Ia bergegas berenang mendekati asal kilatan itu, gelembung-gelembung air keluar dari mulutnya. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok yang ia cari.

Dengan sigap Sooyoung berenang mendekati tubuh Kai yang sudah tak sadarkan diri, Sooyoung langsung mencengkram bahu Kai. Kedua kaki jenjangnya terus bergerak, tangan kurusnya mencoba menggoncankan tubuh Kai.

“Hmmm…” rancaunya sambil terus menggoncang tubuh itu “Hmmm…” kesal karena tak bergerak, akhirnya Sooyoung meraih leher Kai dan merangkulnya. Kakinya bergerak cepat, hingga ia kedua kepala manusia itu muncul di permukaan.

“Ayolah… Kumohon…” pintanya sambil terus menekan dada namja yang tak sadarkan diri di hadapannya itu. “Kai…” panggilnya sambil terus berusaha mengeluarkan air yang sudah masuk kedalam tubuhnya. Sooyoung terdiam menatap wajah Kai, ia tak yakin untuk melakukan ini tapi. Itu yang harus dilakukan, tangannya bergerak meraih hidung Kai dan satunya dagu namja tersebut. Ia tak punya pilihan, Sooyoung menarik nafas kuat-kuat dan langsung meniupkan dimulut Kai.

Saat itu juga ada seorang yang melihat kejadian itu, Taemin. Taemin terdiam melihat kejadian yang masih berlangsung.“Kai… Soo..” lirihnya.

Tak ada pergerakan Sooyoung kembali memberikan nafas buatan untuk kedua kalinya. “Kumohon…”ucapnya setelah memberikan nafas buatan yang kedua, kembali menekan dada namja itu dengan kuat.

Taemin langsung terduduk di samping Kai “A… apa yang terjadi?” tanyanya cemas saat melihat saudara kembarnya itu tak sadarkan diri.

Sooyoung menatap Taemin sesaat, ia sangat merasa bersalah telah membuat Kai seperti ini. Tanpa menjawab Taemin gadis itu terus memberikan nafas buatan untuk Kai, suara nyaring Taemin yang memakinya tak ia hiraukan. Sampai..

“Hukkk…” Sooyoung terduduk lesu saat Kai sudah sadar, air matanya tak bisa ia bendung. Perlahan mata Kai bergerak.

“YAK!!! Apa yang sudah kau lakukan, eoh?” bentak Taemin sambil mendorong tubuh Sooyoung hingga ia terdorong ke belakang. Kai terdiam melihatnya, ia menatap gadis yang tengah tertunduk disampingnya. “Ayo kita pulang!” Ajak Taemin sambil membantu Kai berdiri.

“Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tak mendorongnya seperti itu?” Taemin hanya memutar bola matanya kesal.

“Bisakah tidak membahasnya, kau hampir mati karenanya Kai. Kau sadar, gadis itu sudah berubah menjadi monster.” Belanya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang Kai.

Kai berdecak pinggang, ia menatap tak percaya saudaranya. Kai meraih handuk yang menutupi kepalanya “Kalau bukan karena dia, aku pasti sudah tenggelam.” Bela Kai, tak mau kalah.

Taemin tersenyum sinis “Tapi karena dia juga kau tenggelam..” Kai terdiam, Taemin benar.

“Paman, apakah masih ada bunga mawar?” tanya Kai, matanya menulusuri seluruh ruangan yang di penuhi dengan bunga itu.

Paman penjual bunga menggeleng, menyesal “Maaf, seperti biasa kau kalah cepat dari Sooyoung.” Kai menatap paman itu sejenak, lalu berlari keluar mencoba mencari sosok yang baru saja di bicarakan. Namun ia tak melihat sosok itu, ia ingat saat mengikutinya tempo hari.

Taman bermain

Kai berlari menuju sebuah taman bunga yang tak jauh dari toko bunga itu, langkah kakinya terhenti saat melihat Sooyoung sedang duduk disebuah prosotan.

“Kau masih ingin bermain prosotan?” Suara Kai membuat gadis itu sadar dari lamunannya, ia tak mau melihat namja yang juga duduk di prosotan disebelahnya. Rasa bersalah masih menyelimuti hatinya, semenjak kejadian kemarin sore Sooyoung tak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Kai hanya tersenyum miris, saat pertanyaannya tak dihiraukan “Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Akulah yang salah karena telah memelukmu, maafkan aku.” Ucapnya namun tetap saja gadis itu diam. Sooyoung menghela nafas pelan, sebelum menuruni prosotan itu dan meninggalkan Kai ditempatnya. Kai hanya bisa tersenyum melihat punggung gadis itu semakin menjauh.

Sooyoung’s POV

Aku menghentikan langkah kakinya tak jauh darinya, aku meliriknya “Kumohon, jauhi aku… aku tidak mau kau masuk kedalam hidupku. Aku tidak mau merasakan kehilangan seseorang yang berarti lagi dalam hidupku… tolong jangan lakukan ini padaku..” aku mendengar ia menuruni prosotan dan langkah kakinya yang perlahan menghampiriku.

“Kau baik-baik saja?” kudengar suaranya semakin dekat, aku mencoba untuk melangkah. Namun tiba-tiba kepalaku begitu pusing, rasanganya sangat berat hingga aku tak bisa menjaga keseimbangan dan jatuh direrumputan. Aku masih bisa melihat dengan jelas, warna yang perlahan menguning dan suara Kai yang nyaring ditelingaku hingga semuanya gelap dan sepi.

Rumah Sakit Jiwa

Kai menatap namja yang sedang duduk di bangku taman, namja itu terlihat murung. Ia hanya duduk diam, menatap kosong sebuah air mancur yang berada di tengah taman sambil memeluk sebuah buku di dadanya.

“Minho…” namja yang tak lain adik Sooyoung itu tak merespon “Minho… Choi Minho…” mendengar kata Choi, namja itu mengalihkan pandangannya pada Kai yang sedang berdiri disampingnya.

Kai tersenyum “Aku Kai, kau Minho bukan?” tanya Kai hati-hati sambil mengambil tempat kosong disamping Minho. Mata sendu Minho mengikuti pergerakan Kai dengan curiga, ingatan-ingatan peristiwa kematian sang ayah terus terputar di otaknya.

“Kau kenal dengannya?” Kai menunjukkan foto Sooyoung padanya, mata yang sedari tadi menatap kosong itu kini mulai berair perlahan kedua tangannya meraih foto dari tangan Kai.

Kai’s POV

“Kenapa begitu sulit…” aku hanya bisa bergumam tak jelas, kini aku sedang menunggu Sooyoung di kamar rawatnya. Sudah hampir satu hari ia tak sadarkan diri, kata dokter dia terlalu stress dan terlalu lelah, suhu tubuhnya juga sangat tinggi.

“Eungh..” kulihat matanya bergerak, aku langsung menegakkan tubuhnya dan menunggunya membuka seluruh matanya.

“Apa yang kau inginkan?” suaranya terdengar lemah namun tegas, aku hanya tersenyum sambil menuangkan air kedalam gelas.

“Tidak ada.” Singkatku sambil menyodorkan segelas air padanya “Minumlah..” dia menerima gelas itu, aku bisa merasakan suhu tubuhnya belum turun. Karena tangannya masih begitu hangat, dia meminum air itu sedikit.

Bulan berikutnya…

Author’s Pov

Seperti biasa Sooyoung sedang duduk ditepi kolam renang, tak ada yang ia fikirkan selain sang ayah, Minho dan Kai. Semenjak hari dimana Kai menemaninya di rumah sakit, entah kenapa namja itu tak pernah membiarkan gadis itu sendiri. Seperti saat ini ia terus memandangi punggung Sooyoung, Kai tersenyum sebelum menghampiri Sooyoung. Sebuah nampan yang berisi makanan-makanan enak itu berada di tangannya.

“Hai..” Sooyoung melirik seseorang yang berdiri di sampingnya.

Kai mendudukkan dirinya disamping Sooyoung, ikut merendam kakinya di kolam “Kau pasti belum makan, aku membawakan makanan untukmu.” Sooyoung kembali tak menghiraukannya.

Ini sudah kesekian kalinya Sooyoung tak menganggap semua perhatian yang Kai berikan, sudah hampir satu bulan penuh Kai mencoba mendekati gadis berhati dingin itu. Ia selalu menemani Sooyoung kemanapun ia pergi.

Sooyoung menghentikan langkah kakinya, dan otomatis orang di belakangnya juga “Sampai kapan kau akan terus mengikutiku?” suara terdengar bergetar.

Kai terdiam sejenak “Sampai kau mau membagi semua kesedihanmu padaku?” perlahan Sooyoung berbalik dan memandang manik Kai yang terlihat tulus. “Apa?” Kai mengangguk dengan senyum tipis.

“Aku menyukaimu, semenjak pertama kali bertemu denganmu dan kau membagi bunga mawar itu padaku? Aku menyukaimu.” Jawabnya serius, namun Sooyoung tersenyum meremehkan. Perlahan gadis itu berjalan mendekati Kai, memandangi lekuk wajah Kai yang hanya berjarak 10cm.

“Kau tahu…” kedua pasang mata itu bertemu “Kau tahu apa tentangku, kau tak tahu apa-apa. Aku hanya gadis sebatang kara yang menyedihkan, semua orang yang aku sayangi sudah pergi meninggalkanku. Aku tidak butuh orang lain untuk hidup, aku bisa hidup sendiri…”Gadis itu memukul lengan Kai dengan lesu, Kai hanya terdiam dan membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasannya “Kumohon jangan seperti ini, pergilah dari sini dan jauhi aku. Kau tak tahu apapun.” Jelasnya tanpa jeda dengan air mata yang perlahan mengalir dipipinya. “Kumohon jangan memberi sebuah harapan yang…” ia bingung “Harapan yang sia-sia, kau datang memberikan semua perhatian. Itu semua membuatku takut, takut untuk mengakui perasaanku yang sebenarnya dan sudah cukup aku kehilangan ayah. Aku tidak mau mengucapkan Kehilanganmu lagi, aku tidak mau. Aku tidak mau itu..” lanjutnya dengan nafas tersengal, Kai hanya diam memandang sedih gadis yang sedang frustasi dengan hidupnya itu.

“Maaf, tapi tidak ada yang bisa kulakukan… aku mencintaimu.” Sooyoung mengangkat kepalanya dan menatap mata yang tengah menatapnya. “Diluar sana masih banyak orang yang lebih menderita, kau tak seharusnya mengurung dirimu dengan masa lalu. Biarkan ayahmu tenang disana, aku yakin dia tidak mau melihat putrinya seperti ini. Dan apa? Sebatang kara? Lalu Minho? Kau menganggapnya sudah meninggal?” Sooyoung terlihat terkejut saat mendengar nama Minho disebut.

“Mi… minho?”

Sooyoung dan Kai kini sedang berdiri di bawah pohon, memandang seorang namja yang tak lain adalah Minho. Masih sama seperti terakhir Kai menemuinya, diam memandang air mancur sambil memeluk sebuah buku.

“Temuilah dia…” Sooyoung memandang Kai sesaat, lalu pergi menghampiri sang adik.

Kai tersenyum saat melihat kedua saudara itu saling berpelukan, Kai bisa melihat dengan jelas Minho yang menangis.

Rumah TaeKai..

“Kau masih marah dengannya?” Taemin memandang kesal Kai yang baru saja duduk di sampingnya.

“Ck… huh, untuk apa kau menanyakannya? Kau pasti sudah tahu.” Jawabnya ketus.

Kai tertawa lalu terdiam “Kau tahu, saat itu akulah yang salah. Kumohon jangan marah lagi ya?” rajuknya sambil menarik tangan Taemin. “Ya!!!” pekiknya dan membuat Kai melepaskan tangannya.

“Eoh, sekarang apa yang kau mau?”

Kai tersenyum saat melihat semua permintaannya telah dikabulkan oleh Taemin “Ini akan jadi malam yang special..” gumamnyan dengan senyum merekah.

“Sooyoung..” gadis yang di panggil menatap Teamin datar.

“Pelan, didepanmu ada 3 tangga… hati-hati..” perintah Taemin sambil membimbing Sooyoung untuk mengikutinya, karena kedua mata gadis itu tertutup oleh kain putih. Dengan hati-hati Taemin menolong Sooyoung untuk turun melewati jalanan yang sedikit berbatu itu. Ya, itulah rencana Kai. Makan malam romantis di sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya.

“Kai-ah~~~” Suara itu tak asing baginya, “Shhsss… apa aku sedang berhalusinasi ya? Kenapa aku bisa mendengar suaranya?” gumam Kai sambil memainkan gelas yang berisi wine di depannya.

“Kai-ah~~” suara itu kembali terdengar, Kai langsung berbalik badan dan “Kry.. krystal?” ungkapnya tak percaya saat melihat sosok yang paling ia hindari itu sedang berdiri tak jauh darinya sambil melambaikan tangan.

“Oh-my-god.” Lirihnya sambil menghela nafas. “Kya… Kai-ah…” Bugh.

Kai hanya diam saat Krystal memluknya tiba-tiba, Krystal adalah teman kuliah Kai di seoul dan dia adalah alasan kenapa Kai menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan pindah ke busan bersama Taemin.

“Nah sekarang sudah sampai, kau bisa membukanya.” Perintah Taemin, ia tak tahu jika Krystal datang dan sedang bersama Kai.

Sooyoung mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya “Dimana ini?” Taemin hanya tersenyum “Kau ikuti saja kelopak bunga mawar itu.” Tunjuknya. Sooyoung terdiam melihat sekumpulan kelopak bunga berbentuk hati tertata rapi di jalan setapak.

“A…apa ini?” tanyanya tak mengerti, Taemin hanya tersenyum.

“Kau ikuti arah bunga itu nanti juga tahu, aku akan menunggu disini.” Sooyoung hanya mengerutkan keningnya bingung.

“Hah… akhirnya aku menemukanmu.. maaf ya karena aku kau jadi harus pindah..” ucapnya dengan nada manja.

Kai berdecih “Yak!! Lepaskan!” tegasnya sambil melepas pelukan Krystal “Dengar, aku pindah itu karenamu. Karena aku tidak suka denganmu, makanya aku pindah. Jadi jangan terlalu percaya diri. Nona muda Jung.” Jawabnya sinis. Namun gadis muda itu tak menganggapnya, yang ia inginkan adalah memeluk tubuh namja yang selalu ia inginkan itu.

“Ark…” pekik Kai saat gadis itu kembali memeluk tubuhnya dengan erat. “Ya… ya.. ya… lepaskan!” Kai meronta tapi entah kenapa ia begitu kuat.

Tanpa disadari kedua orang tersebut, sosok Sooyoung sudah berdiri di samping pohon tak jauh dari bengalau dimana Kai dan Krystal berada. Terlihat jelas sebuah kaca bening yang menyelimuti matanya “Jadi ini yang ingin kau perlihatkan?” gumamnya lalu berbalik pergi. Taemin yang sedang menunggu di tempat awal tadi, terkejut saat melihat Sooyoung berjalan melewatinya begitu saja.

“Hoh?… Sooyoung?… Sooyoung-ssi?” panggil Taemin, namun gadis itu tak menggubrisnya dan terus berjalan meninggalkan tempat itu. Taemin yang penasaran langsung pergi menyusul Kai, langkahnya terhenti saat melihat sosok Krystal. Sesekali Taemin melihat kearah Sooyoung pergi, “Ya!!! Kim Jongin!!!” teriakan Taemin membuat Krystal melepas pelukannya dari Kai.

“Oh, Taemin-ah…” antusias Krystal saat melihat sosok Taemin “Taemin?” gumam Kai, ia heran kenapa Taemin sendirian.

“TAEMIN-AH!!!” Kai terkejut saat teriakan Krystal menggema di telinganya.

Kai menatap tajam gadis yang sedang melambaikan tangan pada Taemin “Dasar pengacau!” sahutnya langsung berlari menghampiri Taemin.

Pantulan cahaya bulan membuat sunyinya dermaga begitu terasa, seorang gadis tengah duduk diujung jembatan. Siapa lagi jika bukan Sooyoung, gadis itu tengah menangis. “Bodoh.. apa yang kau tangisi ha? Kau itu tidak punya hak menangisi laki-laki itu Soo.” Gumamnya sambil terus menatap gelapnya air dermaga yang merendam sebagian kakinya. “Apa alasanmu menangis Soo?” ia bertanya pada dirinya sendiri. “Apa hakmu?” ia menghentakkan kakinya di air hingga menimbulkan cipratan kecil.

“Kau disini?” Sooyoung tercengang saat mendengar suara yang tak asing baginya, ia tak tahu harus berbuat apa.

“Kenapa kau pergi?” Kai berdiri disamping gadis yang tengah tertunduk itu, tak mau terlihat bagaimana perasaannya yang sebenarnya Sooyoung langsung berdiri dan bergegas pergi. Namun usahanya pergi gagal saat Kai kembali menahannya “Kau mau aku menjatuhkanmu lagi ke dermaga?” ancam Sooyoung dengan suara bergetar, ia tak tahan untuk menahan air matanya.

“Coba saja..” tantang Kai, Sooyoung yang tak terima langsung berbalik dan tangan kanannya bersiap mendorong tubuh Kai. Namun dengan sigap namja tampan itu menahannya dan menarik tubuh Sooyoung lebih dekat dan mencium bibirnya dengan lembut. Mata indah itu membulat sempurna, ia bisa melihat dengan jelas mata Kai yang terpejam dan deru nafas yang menyentuh kulit wajahnya. Perlahan mata Sooyoung terpejam, serasa ada jutaan kupu-kupu yang terbang tak jelas arah diperutnya.

“Yak! lepaskan! beraninya mereka berciuman dibelakangku?” Gerutu Krystal sambil mencoba lepas dari rangkulan Taemin, yang mencoba menahan Krystal agar tidak menganggu Sooyoung dan Kai.

“Bodoh…” balasnya remeh.

“Mwo?” Krystal memicingkan mata saat mendengarnya.

Taemin tertawa memandang Krystal “Ya kau bodo. Jelas-jelas mereka berciuman dihadapanmu, kenapa bilang di belakangmu? Kau kan tak punya hubungan apapun dengan Kai?” jawabnya dengan nada meledek.

Tak terima Krystal langsung menginjak kaki Taemin “Arkkk…” pekik Taemin dan melepaskan rankulannya pada Krystal “Ya! Apa yang kau lakukan!” Krystal hanya berdecih kesal, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Ciuman yang tadinya sepihak kini sudah terbalas, setetes air mata itu mengalir melewati pipi Sooyoung di sela-sela ciumannya. Sooyoung kini membalas lumatan-lumatan yang diberikan oleh Kai, ia tak tahu apa yang mendorongnya untuk membalasnya. Tapi saat ini hanya Kai yang bisa membuatnya nyaman dan tenang.

“Eungh.. huh…” Kai melepas pautannya saat Sooyoung sudah mulai kehabisan oksigen, Sooyoung tertunduk malu. Kai tersenyum puas, kedua tangannya menangkup wajah Sooyoung dan menyuruhnya untuk melihatnya “Dengar, Krystal hanyalah gadis tidak penting. Kami tidak punya hubungan apapun, karena dia aku pindah kemari dan. Dan berkat dia aku bisa bertemu denganmu. Hmm?” Sooyoung hanya diam gadis itu hanya menatap lekat wajah namja yang tengah tersenyum padanya. Kai mengambil nafas singkat dan langsung menarik Sooyoung kedalam pelukannya.

“Tuhan, dermaga dan bulan ini menjadi saksi. Mulai detik ini aku, Kim Jongin. Akan menjaga gadis berhati kaca yang sangat rapuh ini, aku berjanji akan menjaganya aku tidak akan membiarkannya pecah, karena aku menjaganya dengan cinta hingga sampai akhir hayatku.” Perlahan tangan Sooyoung mulai terangkat dan membalas pelukan Kai.

“Kau janji?” Kai tersenyum saat gadis dalam pelukannya bersuara, “Janji.” Singkatnya sambil mengeratkan pelukannya.

END-

Huwah,,, gak tahu ni ff berhasil apa kagak. Yang penting udah di publish dan sedikit melegakan setelah menulis ni ff. ingat Jangan jadi Siders, suka/tidak silahkan tinggalkan jejak. Biarkan Tuhan yang membalas semuanya ^^ L-C ya 😉

 

Iklan

15 thoughts on “[Oneshot] Breakable Heart

  1. febryza 2014/08/25 / 4:04 pm

    duh ending scenenya so sweet banger sih.. padahal udah ngira ff ini bakalan sad angst gitu eh engga nyangka akhirnya begini.. iyaya taemin bener tuh kan sookai ciumannya didepan Krystal kok dia bilang dibelakang sih hahaha

  2. syoffgisyoung 2014/08/25 / 4:52 pm

    Aku suka banget unyu gimana gitu ceritanya,btw,ada krystal,jadi inget sulli,kalo bisa bikin cerita tentang sulli sooyoung gitu ya eon,Keep Writing!

  3. chevelyyn 2014/08/25 / 6:08 pm

    Sweet banget sookainyaaa… kasian soo kehilangan appanya. Tapi minho berarti ga gila kan? Hehe… keren dehh ff nyaa 😉 semangatt!

  4. Sailors moon 2014/08/25 / 7:50 pm

    Trnyta ad sookai, syoung dingin banget, jongin kau sabar sekali :’) udah diceburin dan gak bisa berenang masih bertahan, sweet ending , dikira sad ending
    Ff wolfnya ditunggu bet nih author..

  5. wiwik 2014/08/26 / 3:13 pm

    keren aku suka ffnya 🙂 SooKai :3

  6. Kumiko 2014/08/26 / 3:55 pm

    doh .. knapa krystal jadi jahat? :v wks tp epepnya bagus :v buat lagi ya yg kyk gini hehe

  7. ismi khaerin 2014/08/28 / 12:12 am

    huwee sweet bgt sh mrka ,q mbcanya ampe nangis darah. Yakk aku suka bgt ff kyak gni. Unnie

  8. olivia 2014/08/28 / 9:06 pm

    keren thor 🙂 suka deh sama sookai

  9. mikaudrey 2014/08/30 / 2:37 pm

    Akhirnya Ada juga ff sookai
    Mereka so sweet bgt
    Suka sma ff yg ini

  10. nisaandryani 2014/10/19 / 12:15 am

    jarang2 nih ada ff sookai, suka sama ff nya

  11. ayukdam 2014/11/23 / 7:23 pm

    Ending.ny sweeeeeet bngt dehhhh
    Ngakak pas taemin bilang Ya kau bodo. Jelas-jelas mereka berciuman dihadapanmu, kenapa bilang di belakangmu? Hahahahahah
    Kasian bngt ya nasib keluarga soo…ayah.ny meninggal dan minho masuk rumah sakit jiwa

  12. Amel Ryriis 2015/01/09 / 9:39 pm

    Huaa.. Endingnya bnar2 so sweet, akhrnya pnantin kai trblaskan 🙂

  13. chocoyun 2015/06/06 / 8:41 pm

    jarang banget aku baca ff sookai ‘-‘ ceritanya so sweet apalagi endingnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s