Gone [Part 1]

 

gone

 

Cast  :

Choi Sooyoung / Lee Sooyoung

Luhan

Other cast :

Choi Soojin

Choi Siwon

Choi Minho

Park Jung Su/ Leeteuk

Genre : Sad, Romance

Note : Ff ini q buat karena terinspirasi dari cerita seseorang yang sangat dekat dengan ku dan lagu dari Jin dengan judul yang sama.

 

Happy Reading ^_^

 

“Kau tahu bagaimana rasa sakit? Apa kau juga tahu bagaimana rasanya kehilangan? Kedua rasa itu tidak ada bedanya. Semuanya sama”

Pagi ini angin berhembus begitu kencang, hingga menerbangkan kelopak bunga blossom yang tergeletak di tanah. Suasana itu mengingatkan seorang namja yang tengah berdiri di tengah jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon bunga blossom, matanya terus memandang lurus kedepan. Bola matanya menyusuri pemandangan sekitar, ia hanya tersenyum walau diiringi dengan butiran-butiran bening yang melesat dipipinya. Mengingat sesuatu yang takkan mungkin pernah terulang, sebuah kenangan yang menjadi impian. Perlahan kelopak matanya tertutup dan membuat setetes air jatuh dipipinya.

Someone’s POV

Dia pernah bilang ‘Aku tidak mau berjalan sendirian disini, aku akan menemani setiap langkahmu’ kami sering bermain biola ditempat ini, tempat yang penuh dengan kenangan. Tempat dimana pertama kali kita bertemu. Entah kenapa rasanya begitu sakit, mengingat hari-hari saat kami masih bersama, saat aku mulai menemukan tujuan hidup dan masa depan yang aku anggap tak akan bisa aku gapai.

‘Tap… tap… tap…’

Aku terdiam saat melihat seorang yang berdiri di belakangku, seorang yeoja yang terlihat kebingungan. Yeoja dengan tubuh tinggi dan sebuah tas biola ditangan kanannya, ia sangat mirip dengan seseorang yang pernah aku kenal, aku terdiam melihatnya. Merasa tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Tubuhku seakan mematung dan tak mataku seakan tak bisa berpaling darinya. Aku kembali membalikan badanku dan tidak berani menatapnya.

“Bagaimana ini bisa terjadi? Ti… tidak mungk-” kata ku terhenti saat tak melihatnya lagi, ia seperti hantu. Apa? Hantu?, aku berlari ketempat dimana ia berdiri. Aku mencarinya melihat kesekeliling namun nol. Apa mungkin ini efek aku terlalu merindukannya, aku menganggapnya ada disini.

-gone-

<Flashback >

Seorang yeoja sedang duduk di bangku taman, ia tampak kacau. Wajahnya yang sedari tadi tak berhenti menangis membuatnya tampak menyedihkan, tangan kirinya terkulai lemas sambil memegang sebuah tongkat penggesek.

“Eomma… appa…” gumamnya dalam tangisnya.

Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Lee ajhussi, merasa sangat kasihan melihat anak majikannya itu.

“Nona, apa anda ingin sesuatu?” tawar Lee ajhussi yang tak lain adalah pengawal pribadinya.

“Ani…” yeoja itu terlihat sedikit tenang “Paman…” panggilnya lirih.

“Ye?” jawabnya sigap.

“Bisakah kau meninggalkan aku sendiri sekarang?” pintanya pada pengawal pribadinya itu.

Pengawal Lee awalnya ragu, tapi melihat kondisi nona mudanya “Baiklah, saya akan menunggu dimobil. Jika ada sesuatu, langsung hubungi saya…” jawabnya kawatir.

Gadis yang duduk itu tak menjawab ia hanya mengangguk, dan perlahan pengawal Lee berjalan menjauhi anak majikannya dan pergi kemobil.

Sekarang tinggalah yeoja itu sendirian, ia tampak sangat sedih dengan peristiwa tadi siang.

<Flashback>

                “Sooyoung!!! Apa kau tidak bisa mengerti apa yang aku maksud?” bentak seorang pria paruh baya yang sedang berdiri dihadapannya, dengan kesa lia memukul-mukul piano dengan tongkat yang ada ditangannya.

                “Mi… mianhae seongsaengnim…” lirihnya.

                ‘Brak!!’ ia kembali memukul piano klasik itu dengan tongkatnya.

                “Maaf… maaf… maaf? Apa ada kata lain selain MIANHAE SEONGSAENGNIM? Soo aku ingin kau serius. Bisakah kau itu seperti dulu? Sebelum kau buta, kau sangat mahir dan selalu menjadi juara untukku. Tapi, kenapa setelah kebutaanmu kau jadi seperti ini?” tanyanya sambil duduk didepannya.

                Sooyoung yang diajak bicara hanya bisa menunduk dan tak berani menganggkat wajahnya.

                “Soo-ah… kemana semangatmu dulu, kenapa kau seperti ini?” tanyanya mencoba untuk membuat gadis dihadapannya itu semangat berlatih.

                Namun Soo tak menjawabnya lagi.

                Seongsaengnim didepannya hanya menghela nafas berat “huh…” mengacak rambutnya frustasi “Baiklah Soo, pelajaran sampai disini dulu. Aku rasa kau butuh waktu, aku akan memanggil pengawal Lee.” Katanya langsung berdiri dan meninggalkan Soo di ruang belajarnya.

                Soo langsung menegakkan wajahnya mengikuti arah suara itu pergi, namun percuma pandangannya yang masih melihat namun samar-samar. Kepalanya tiba-tiba pusing, biola yang tadi berada ditangannya kini jatuh dilantai. Tangannya terkulai tak berdaya saat tubuhnya tak kuat lagi untuk tetap tegak.

                <back to>

                “Semuanya seperti mimp…”

-gone-

Seorang namja dengan warna rambut kecoklatan dan senyuman manisnya itu menikmati jalan-jalannya di taman yang dikelilingi oleh tanaman bunga blossom. Sesekali ia bersenandung, sambil menghirup udara segar.

“Huh… sudah lama aku tidak jalan-jalan ketempat ini. Hah, tak ada yang berubah. Masih tetap sam-” kata-katanya terhenti saat matanya mellihat seorang tak sadarkan diri di salah satu bangku taman.

Namja itu mengamati yeoja yang tak sadarkan diri itu, ia seperti pernah melihatnya. Matanya membulat sempurna saat ia melihat tas biola yang tergeletak di tanah. Ia pun langsung berlari menghampirinya.

“Soo… Sooyoung-ssi? Kau kenapa?” tanyanya dan mencoba untuk membuatnya bangun.

Namja itu langsung menggendong, tubuh yang seperti tak bernyawa itu dan langsung membawanya kerumah sakit.

-gone-

Namja yang tadi menggendong Sooyoung sekarang sudah berada dirumah sakit, ia berlari masuk kedalam rumah sakit.

“Suster… tolong kami!” teriaknya pada seorang suster yang sedang mendorong trolli obat.

Suster yang mendengar teriakan namja itu langsung meninggalkan pekerjaannya.

“Ada apa?” tanya suster lalu melihat tubuh lemas Soo “Ikut aku-” kata suster itu terpotong saat melihat Dokter Su.

“Ada apa ini?” tanya Dokter Su.

“Tolong teman saya dok, dia tidak sadarkan diri.” Sahut namja itu.

Dokter Su terkejut melihat yeoja yang sekarang ada di gendongan namja itu “Sooyoung!”

“Kau mengenalnya?” tanya namja itu.

Dokter Su mengangguk singkat “Bawa dia ke ugd…” perintahnya pada suster.

Namja itu langsung meletakkan Soo keranjang pasien yang baru saja tiba, kedua suster dan dokter itu langsung membawanya ke ugd, namja itupun mengikuti dari belakang.

-gone-

‘Drt….drttt….drttt…’ ponsel di tas milik Soo tiba-tiba bergetar.

Namja yang sejak 1 jam lalu duduk setia menunggu Sooyoung bangun dari istirahatnya itu, sedikit terkejut karena ia sedikit terkantuk-kantuk. Dengan segera ia mengambil ponsel di dalam tas kecil berwarna putih dipangkuannya.

Ia melihat siapa pemanggilnya “Oh… yeobosseo?” sapanya.

“Yeobosseo? Dangsineun nuguyo? Dimana nona Soo?” suara dari seberang.

“Oh… ye. Sooyoung-ssi sedang ada dirumah sakit, tadi aku menemukannya tidak sadarkan diri ditaman.” Jelasnya.

“Mwo? Nona Soo berada dirumah sakit?”

“Ye”

“Dirumah sakit mana? Apa rumah sakit didekat taman itu?”

“Ne, dia ada di bangsal 143”

“Baiklah, saya akan segera kesana.”

“Ah ye-”

‘Tuttt…. tutt… tuuttt..’

Belum selesai namja itu berbicara penelpon yang tak lain adalah pengawal Lee, namja itu kembali memasukkan ponsel Soo kedalam tasnya. Ia melihat wajah polos itu belum bergerak, posisinya masih sama seperti saat ia keluar dari ruang ugd.

“Luhan-ssi…” panggil seseorang yang tak lain adalah Dokter Su, ya nama namja itu Luhan.

Luhan langsung bangun dan memberi salam “Ye…” Dokter Su berjalan kearahnya.

“Apa kau sudah menghubungi keluarganya?” tanya Dokter Su.

Luhan menggeleng “Belum, tapi pengawalnya sudah tahu jika Soo ada disini.” Jelasnya.

“Luhan-ssi kau bisa ikut keruanganku sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan?”

Luhan mengangguk dan mereka berdua pergi keruangan Dokter Su.

-gone-

Dokter Su menyuruh Luhan untuk duduk.

“Ada apa? Kenapa kau ingin bicara denganku? Sebaiknya kita menunggu keluarganya? Kau bisa mengatakannya pada keluarganya nanti?” kata Luhan yang masih penasaran kenapa dia yang diajak keruangannya.

Dokter Su mengangguk singkat “Aku tahu itu, tapi aku mau bertanya. Apa hubunganmu dengan Sooyoung?” tanya Dokter Su serius.

“Wae? Kenapa kau tanyakan itu?” tanya pria bermata indah itu.

“Tidak, aku Cuma bertanya dan aku butuh jawabannya sekarang.” Desak Dokter Su dengan halus.

“A… aku teman lesnya. Kebetulan kami satu tempat les musik.” Jawabnya datar, namun fikiran Luhan ‘Kenapa dia bertanya seolah-olah dia cemburu? Apa dokter ini punya hubungan kusus dengan Soo?’

“A… aku kira kau adalah kekasihnya. Aku sangat tidak sanggup lagi untuk menyembunyikannya, tak ada satu orangpun dari keluarganya yang mengetahui ini.” Jawab Dokter Su sambil memberikan sebuah amplop berwarna coklat padanya.

“Apa ini?”

“Itulah alasan aku menanyakan siapa dirimu, aku tidak tega melihatnya menanggung penderitaan sendiri. Harus ada seseorang yang tahu tentang penyakitnya…”

“Mwo? Dia sakit?”

Dokter muda itu tidak menjawab, langsung saja Luhan mengambil amplop itu dan membukanya. Bola matanya mengikuti kata demi kata yang teketik rapi dikertas putih itu, matanya membulat sempurna ketika ia melihat tanda positif disalah satu kolom.

“Kanker?” ia melihat Dokter Su.

Dokter muda itu mengangguk pelan “Kebutaan, lumpuhnya sebagian tubuh secara tiba-tiba, kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba, itu adalah effek dari kanker. Soo masih bisa melihat walaupun itu samar-samar, tapi itu sangat menyakitkan.”jelas Dokter Su yang tak lain adalah sahabat baik Siwon, kakak Sooyoung.

Luhan tampak terkejut dengan penjelasan sang dokter, ia hanya terdiam saat Dokter Su menjelaskan dan menceritakan hal yang dialami Soo beberapa bulan terakhir.

-gone-

Luhan berjalan lesu menuju bangsal yang ditinggali Sooyoung, ia teringat pertama kali ia bertemu. SM Unyversity, tempat pertama kali mereka bertemu.

<Flashback>

                LUHAN’S POV

                Aku berjalan menyusuri lorong kelas Seni musik, aku sangat penasaran dengan kampus baru ku. Ini hari kedua aku masuk kekampus, suasana sangat sepi mungkin karena kelas sudah dimulai. Ya aku belum secara aktif mengikuti pelajaran, karena masih ada masalah tentang surat-surat kepindahanku kemari. Tapi berhubung aku adalah keponakan dari pemilik tempat ini aku boleh masuk kapan saja aku mau, sebelum semua urusanku beres.

                Lamat-lamat aku mendengar suara alunan biola, aku yang penasaran mencari asal suara. Gadis, ya seorang gadis yang memainkan dia sangat cantik.

                “Bidadari…” gumamku saat melihat ia kembali memainkan biolanya didepan teman-temannya didepan kelas “Sangat cantik…” lanjutku terus memperhatikannya dari kaca yang terdapat dipintu kelasnya.

                Beberapa menit kemudian ia selesai memainkan lagu itu, ia terlihat tersenyum saat semua teman dan dosennya memberinya tepuk tangan. Aku juga ikut tepuk tangan hingga ia melihat kearahku, aku terkejut dan langsung jongkok supaya ia tidak melihatku.

                “Huh… ottoke…” aku terus memegang jantungku yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya “Kenapa dia bisa melihat kearahku…” aku tersenyum mengingatnya “Tapi dia tersenyum padak-” aku terdiam saat sepasang sepatu flat putih dengan salah satu tali tak terikat.

                “Maaf, aku tidak tahu jika kau masih disini…” suara itu membuatku mendongak keatas, astaga gadis ini.

                “Aa… ah ye… mianhamnida…” sahutku langsung berdiri dan mensejajarkan tubuhku dengannya.

                Ia kembali tersenyum “Ah…” aku mengurungkan ucapanku.

                “Ye?” dia tampak menungguku mengatakan sesuatu.

                Aku bingung harus mengatakan apa, tidak mungkin aku mengatakan aku menyukainya. Ini terlalu cepat.

                “A.. maaf, jika tidak ada yang ingin kau katakan, bisakah aku lewat?” tanyanya ragu sambil menunjuk sebuah lorong dibelakangku.

                Aku baru sadar dari tadi dia ingin lewat “Ah ye, silahkan” ucapku dan menyingkir darinya.

                Perlahan dia melangkah meninggalkanku, pandanganku terus mengikutinya yang perlahan menjauhiku “Jjakaman!” dia berhenti dan kembali melihatku.

                “Ne?” Aku langsung berlari menghampirinya.

                Aku langsung jongkok dan meraih tali sepatu yang terlepas “Kau bisa terjatuh…” jawabku sambil menali simpul sepatunya.

                “A… gamsamhamnida…” ucapnya sedikit gugup saat aku sudah selesai.

                “Cheonma…” balasku.

                “Kalau begitu aku permisi dulu, maaf telah merepotkan” jawabnya, tapi ada yang aneh dia seperti terlihat sakit, aku hanya mengangguk pelan.

                <Back to>

                “Tak kusangka gadis seceria dirinya, gadis yang terlihat sehat dan kuat, ternyata sangat rapuh. Kenapa orang sebaik Sooyoung harus menerima ini semua? Haa….huh…” gumamnya saat berjalan menuju kamar Soo, sesekali ia menghela nafas panjang.

Langkahnya terhenti saat melihat seorang yeoja sedang berjalan lunglai keluar dari kamarnya, Sooyoung. Yeoja yang tak lain adalah Sooyoung itu berusaha berjalan sambil meraba dinding didepan kamarnya. Mencoba mencari jalan untuk pergi dari tempat yang paling dibencinya.

Sooyoung!’ panggilnya dalam hati, Luhan tidak berani memanggilnya.

LUHAN’S POV

Bodoh kenapa bibir ini susah sekali memanggilnya, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa memanggilnya. Aku melihatnya berjalan menjauh dari kamarnya, perlahan aku mengikutinya dari belakang.

‘Brakkk’

Aku membulatkan mataku saat melihat yeoja yang berada didepanku menabrak seorang suster yang sedang membawa nampan berisi beberapa obat. Aku ingin sekali menolongnya tapi, kakiku terasa berat untuk melangkah. Aku berada 3 meter darinya, ia terduduk dilantai.

“Ah… mianhae…” ucapnya yang dapat aku dengar.

Suster itu terlihat membantu Soo berdiri, lalu kembali dengan pekerjaannya. Aku melihat Soo menjauh dan mencoba mencari jalan keluar, mungkin. Atau apa aku juga tidak tahu, dan akhirnya ia berhenti dan bertanya pada Suster yang sedang lewat.

“Maaf, lift ada disebelah mana?” tanyanya.

“Ouh.. didepan anda ada lift, memang anda mau kemana?” tanya suster yang sedang menunjuk Lift.

Aku melihat ia menggeleng “Oh ya ini dilantai berapa? Dan apa ada berapa lantai rumah sakit ini?” tanyanya lagi, aku tidak tahu kenapa dia bertanya seperti itu.

“Ouh ini dilantai 9, ada 15 lantai. Memang ada apa? Kenapa seorang pasien bertanya seperti itu?” jawabnya.

“Ani… aku hanya bertanya.” Jawabnya lalu ia berjalan perlahan menuju lift, meninggalkan suster yang masih diam mencerna pertanyaan Sooyoung, namun ia cepat pergi.

LUHAN’S POV END

-gone-

SOOYOUNG’S POV

Aku terus merutuki diriku sendiri, kenapa aku menjadi beban sekarang. Tangan ini, tangan yang dulu aku sukai kerena membuat nada-nada indah, mata ini… huh…semuanya akan mati fungsi. Setelah hari ini atau sampai waktunya tiba, seutuhnya aku akan menjadi beban bagi semua orang yang ada disampingku. Terutama pada Eonni dan Minho, aku tak ingin mereka tahu tentang keadaanku yang seperti ini.

“Aku yakin tak akan pernah menyesal melakukan ini… Eonni… maafkan semua kesalahanku dan hiduplah bahagia… Minho… adikku yang manja, jaga Soojin Eonni ne?”

SOOYOUNG’S POV END

-gone-

Luhan membelalakan mata indahnya saat melihat yeoja lemah itu berdiri ditepi gedung, Sooyoung. Ia bersiap untuk terjun bebas dari lantai 15 gedung rumah sakit itu, ya kini Luhan tahu alasan Soo menanyakan hal itu pada suster. Ia sadar jika ia tidak berlari dan menariknya maka, tubuh lemah itu tak akan pernah bergerak selamarnya.

“ANDWAE!!!!!!!!!!!!” Teriak Luhan saat Soo mencoba melompat, namun Luhan lebih dulu menarik tubuh kurus Sooyoung. Hingga mereka terjatuh dilantai.

Soo tak sengaja menimpa Luhan karena Luhan menariknya kebelakang, Soo masih memejamkan matanya. Seakan semua ini hanyalah mimpi baginya, sebutir kristal bening menetes dari mata yang terpejam dan mendarat sempurna dipipi Luhan.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” tanya Luhan yang dilanda ketakukan, jika ia terlambat satu detik saja.

Sooyoung tak menjawab, dadanya terasa sakit menahan semua yang ia alami.

“Hiks….hikss…” Luhan bisa mendengar jelas suara sesegukan Soo.

Perlahan Luhan bangkit dan menegakkan tubuh lemah Soo, ia langsung membungkap sesegukan itu dalam pelukannya. Tangis Soo pecah dalam dekapan Luhan, Luhan tahu bagaimana rasanya menjadi beban. Dia bisa merasakan apa, yang dialami yeoja yang ada didalam dekapannya saat ini, mata indahnya kini ikut menitihkan airmata. Perlahan tangan Soo yang terkulai mulai bergerak dan menarik bagian belakang jaket yang dikenakan oleh Luhan dengan kencang.

“A…esh” suara erangan sakit dicoba ditahannya, dengan semakin kuat meremas jaket Luhan.

“Apa yang mau kau lakukan? Apa kau ingin pergi dari masalah?” tanyanya sambil menepuk-nepuk pelan pundak Soo.

Tak ada jawaban dari mulut yeoja berwajah pucat itu, ia hanya mendengar suara sesegukan yang perlahan mulai melemah dan tak terdengar lagi.

-gone-

“Luhan-ssi” panggil panggil Dokter Su yang baru masuk kedalam kamar Sooyoung.

Luhan yang sedang terkantuk-kantuk langsung membuka dan menyegarkan matanya “Ada apa?” tanya Luhan yang mencoba untuk sadar dari kantuk yang melandanya.

“Lebih baik kau pulang dan istirahatlah, Sooyoung akan baik-baik saja disini..” jawab Dokter Su yang terlihat kasihan pada Luhan, karena sejak 2 hari yang lalu ia tidak pulang dan terus menjaga Sooyoung setelah kejadian tempo hari.

Luhan tersenyum tipis “Gwaenchana… aku tidak apa-apa…” jawabnya dengan senyuman.

Dokter Su langsung menghampiri Luhan yang sedang duduk disofa putih yang berada dikamar “Kau yakin, semakin hari wajahmu semakin pucat? Apa kau sakit?” tanya Dokter Su yang kawatir melihat keadaan Luhan.

Luhan hanya kembali tersenyum sambil mengacak pelan rambut coklatnya itu “Aku tidak apa-apa, mungkin karena aku belum makan dari tadi siang jadi aku terlihat puc-” kalimatnya terhenti saat melihat pergerakan dari tubuh Soo.

“Eungh…” lenguhnya.

“Dia sudah bangun?” ucap Dokter Su sambil menghampiri Sooyoung disusul Luhan.

Dokter Su langsung memeriksa keadaan Sooyoung “Kau sudah bangun?” tanya Dokter Su pada Sooyoung yang sedang menatap kosong kedepan.

“Kenapa dulu dia menolongku?” tanyanya dengan kesal.

Dokter Su menatap Luhan lalu melihat Sooyoung “Apa maksudmu?” mata gadis berusia 22 tahun itu kini sudah berair.

“KENAPA DIA MENOLONGKU!!!” kini nada suaranya meninggi “Kenapa tidak kau biarkan aku mati? Kenapa?” tiba-tiba tangisnya pecah.

Luhan hanya diam tak tahu harus berbuat apa ‘Kenapa kau begitu ingin mati, sedangkan ada orang yang ingin hidup?’ .

Sooyoung mulai histeris, ia melempar semua benda didekatnya.

“Sooyoung tenanglah!” perintah Dokter Su.

Namun Sooyoung yang telah putus asa akan hidupnya dan semua hal disekitarnya tidak menghiraukannya “Apa untungnya aku hidup, mereka tak pernah perduli. Aku… AKU HANYA BEBAN!!!” bentak Soo dan kini ia mencoba melepas selang infus yang terpasang di tangannya.

Melihat itu Luhan tidak tinggal diam ia langsung menarik tangan Soo dan memeluknya erat “Bisakah kau bersikap dewasa? Bisakah kau tidak membuat dirimu seperti beban huh?” akhirnya pernyataan yang ingin ia lontarkan saat diatap berhasil ia keluarkan.

Namun Soo tetap meronta dalam pelukan Luhan, tangan mungil Soo terus memukuli dada bidang Luhan. Tapi kekuatan laki-laki dan perempuan lebih kuat laki-laki, Luhan terus menahan pukulan-pukulan Soo yang membuat ia sedikit merintih kesakitan karena dadanya terasa sesak.

“Siapa kau? Lepas…. Lepaskan aku!” perintah Soo.

“Akh…”

“Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Dokter Su pelan.

Luhan mengangguk pelan dan tersenyum, ia masih memeluk tubuh gadis yang sedang kacau itu. Entah sejak kapan Dokter Su memanggil suster, seorang suster masuk membawa sebuah kotak dan langsung memberikannya pada Dokter Su.

“Tenanglah…” Luhan kembali menenangkan Soo sambil menepuk pelan pundak yeoja yang masih meronta, meminta dilepaskan.

“Lepaskan!!! Apa maumu?!” bentak Soo dan lebih kuat memukul dada Luhan.

Luhan terus menahan rasa sesak yang ada didadanya “Bisakah kau tenang!!!” balas Luhan tak kalah kesal.

“Kumohon… lepaskan aku… aku hanya ing…” perlahan suara itu melemah dan tak terdengar lagi.

Luhan melihat sebuah jarum yang baru dilepas dari selang yang berada dipunggung tangan Sooyoung, ternyata Dokter Su telah menyuntikkan obat bius agar Soo bisa tenang.

“Tidurkan dia, biarkan dia kembali istirahat” perintah Dokter Su pada Luhan.

Luhan langsung mengangguk dan menidurkan tubuh Soo yang tadi berada didekapannya, perlahan Luhan membenarkan kaki Soo agar lebih nyaman, lalu tak lupa mengambil selimut yang jatuh dilantai lalu kembali menyelimuti tubuh Sooyoung.

“Apa tidak apa-apa? Dia baru sadar setelah dibius dan sekarang dia kembali dibius lagi?” tanya Luhan yang terlihat kawatir karena wajah Soo sangat pucat.

Dokter Su memberikan jarum suntik itu pada suster yang sedari tadi hanya diam dibelakang Dokter Su “Apa kau mau dia kembali melakukan percobaan bunuh diri lagi? Sooyoung itu sama seperti… Ah ne, suster Jung kau bisa kembali bekerja…” perintahnya pada Suster yang bernama Jung dan Suster itu langsung pergi.

“Kau tidak tahu jika Sooyoung itu sama seperti Siwon dan Soojin, kakak-kakaknya itu sangat pemberani. Dan mereka selalu bertindak tanpa berfikir terlebih dahulu, dan itu semua menurun ke adiknya.” Jelas Dokter Su pada Luhan yang sedang sibuk memandangi wajah Soo yang sedang terlelap.

“Aku tidak menyangka gadis seceria dia bisa mengalami ini semua” jawab Luhan yang memalingkan pandangannya kearah Dokter Su.

Perlahan Dokter Su kembali menghampiri sofa yang berada didekat jendela “Ya, awalnya aku juga bingung. Sooyoung yang sekarang bukanlah Sooyoung yang aku kenal dulu. Dulu dia sangat ceria, baik murah senyum dan tidak pernah membentak orang lain. Tapi sekarang dia berubah,          dia menjadi dingin, pendiam dan sering sekali membentak jika sudah menyangkut masalah tentang penyakitnya.” Lanjutnya sambil duduk disofa.

Luhan hanya tersenyum kecut, berbalik badan dan melihat Dokter Su sudah merilekskan tubuhnya di sofa.

“Sepertinya kau tahu banyak tentang Sooyoung  ?” tanyanya diiringi rintihan sakit karena dadanya terasa sesak.

Dokter Su tertawa dan terus memandang langit-langit kamar “Tentu, aku sudah mengenalnya sejak ia kecil. Aku adalah mantan kekasih Soojin dan sahabat Siwon sejak smp, jadi aku tahu banyak tentang Sooyoung.” Jawab Dokter Su sambil menerawang dan sesekali tersenyum mengingat masa lalunya.

Luhan tersenyum miris, perlahan kakinya mencoba melangkah menghampiri Dokter Su “Bisakah kau menceritakannya lebi…” ‘Bruk!!!’ kalimat Luhan terhenti dan ia tergeletak tak berdaya dilantai. Dokter Su terkejut melihatnya “Lu…Luhan-ssi?” ia berlari menggapai tubuh Luhan yang sudah tak berdaya.

To Be Continue….

 

RCL BRO!!!

SILENT READERS? OUT AJA!!!

 

Iklan

15 thoughts on “Gone [Part 1]

  1. sooexoyoung143 2014/06/09 / 6:59 pm

    luhan waeyeo??
    adakah luhan okey??
    next part ^^

  2. itak 2014/06/11 / 3:12 am

    Hua….!!!T.T sedih banget soo eon luhan oppa hua…!!!T.T
    next part~

  3. chevelyyn 2014/06/28 / 4:30 am

    Kasian soo nya sakit sama kayak depresi gitu gara2 jd beban… keren eonnie, fighting!!

  4. sailors moon 2014/06/29 / 5:58 am

    Syoung depresi karena penyakit ya? Dua dua nya sama sama sakitan gini, lanjut bacalahh

  5. ayuk 2014/06/30 / 1:10 am

    Kasihan soo tertekan ama penyakit.ny…
    Luhan knpa???? Apa dia sakit juga????

  6. yeni swisty 2014/07/03 / 1:15 pm

    kok pada sakit semua.. 😦
    Part ini hapir buat ak nangis.. klo lebih pnjang mungkin ak bkl nangis.. :v

  7. yeni swisty 2014/07/03 / 1:15 pm

    *hampir

  8. arr_98 2014/07/03 / 4:20 pm

    Yaa!!! Luhan kenapa itu??
    Dia sakit jg?? Kenapa?? Wae???

  9. DeliaaOKT 2014/07/10 / 1:23 am

    Soo eonn sakit kanker??Trus Luhan jgn sakit juga..
    Langsung ke chapt 2 #teleportbarengKai

  10. andryani 2014/07/25 / 1:57 pm

    itu luhan kenapa? next aja lah

  11. Nurafrianti 2014/08/04 / 3:28 am

    Luhan knpa tuh? Apa dy sakit jg? Next

  12. galaxysooxo10 2014/09/25 / 5:43 pm

    Aigo..luhan nya kenapa.
    Kenapa harus TBC.Jadi penasaran tingkat dewa kan.

  13. evilchoi1 2014/10/17 / 12:49 pm

    wah,, sad ff yaa.. luhan sakit juga kah ??
    trus gimana nihh ?? penasaran -.-

  14. LuSYver 2015/06/04 / 1:29 pm

    Huaaaaaa!!!,, nih ff sedih banget…
    luhan sayang banget ama soo,, sampai dia ikutan sakit jugaa…
    huhuhu,, t

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s